Kisah Zaid bin Tsabit dan Ibnu 'Abbas

advertisement

Kisah Sahabat Nabi, Kisah Zaid bin Tsabit dan Ibnu 'Abbas


Banyak hal dan kisah-kisah menarik yang bisa kita ambil dari perjalanan hidup para sahabat nabi, didalamnya ada pelajaran pelajaran menarik yang bisa kita petik sebagai penambah ilmu dan pengetahuan tentang bagaimana seorang sahabat menjalani hidupnya dan bergaul atau bersikap kepada orang lain.


Maka dari itu kali ini expobia.id, akan mengangkat kisah sahabat nabi yang berjudul Kisah Zaid bin Tsabitdan Ibnu 'Abbas. Yang tentunya disana ada kisah yang bermanfaat untuk kita ambil sari hikmah yang bisa anda peroleh dari sebuah kisah tersebut. Dan semoga kisah kali ini akan memberikan tambahan ilmu dan pengetahuan baru bagi kita semua. Amiin ya robbal alamiin.
*****
Suatu ketika, selepas menshalati jenazah sang ibunda, sahabat yang bernama Zaid bin Tsabit pulang dengan menaiki bighãl (bagal). Pada saat akan menunggangi hewan peranakan kuda dan keledai tersebut, sepupu Rasulullah, yang bernama Ibnu 'Abbas, tiba-tiba mulai menghampiri kemudian memegang tali kendali tunggangan tadi. Kemudian Ibnu 'Abbas hendak menuntunnya yakni sebagai bentuk suatu penghormatan.

Keduanya tak lain merupakan sahabat Rasulullah yang sangat istimewa. Zaid adalah sahabat cerdas yang pada zaman Rasulullah telah dipercaya sebagai penulis wahyu. Ia merupakan sekretaris pribadi Nabi yang ilmu atau keulamaannya diakui di kota Madinah. Ibnu 'Abbas pun tak juga tak kalah hebat. Putra 'Abbas bin Abdul Muthallib ini punya wawasan yang sangat luas. Banyak hadits yang diriwayatkan oleh beliau Radhiyallahu Anhu.

Namun demikian, saat itu atas sikap rendah hatinya, Ibnu 'Abbas pun rela untuk melayani Zaid. Zaid bin Tsabit yang merasakan sungkan diperlakukan demikian oleh sahabat Ibnu 'Abbas kemudian bertutur sopan, "Lepaskan, wahai anak paman Rasulullah!"

"Begini kami memperlakukan seorang ulama," kata Ibnu 'Abbas memuji keutamaan dari Zaid bin Tsabit. Bagi seorang Ibnu 'Abbas, orang biasa seperti dirinya telah sepantasnya untuk menghormati sahabat seperti keulamaan Zaid bin tsabit.

Kemudian sontak, Zaid mencium tangan Ibnu 'Abbas. "Begini kami diperintahkan dalam memperlakukan keluarga Nabi," kata Zaid. Ini merupakan sikap balasan atas ketawadukan dari Ibnu 'Abbas. Yakni sebuah Kerendahan hati yang dibalas dengan kerendahan hati.

Zaid menunjukkan sebuah kualitas jiwa yang sangat luar biasa justru saat dirinya memperoleh pujian dan juga kehormatan. Ia merupakan sebuah contoh dari kenyataan bahwa semakin tinggi mutu seseorang, maka semakin terkubur rasa congkak yang sapat mengotori pribadinya. Kemudian, Ibnu 'Abbas yang memperoleh penghormatan serupa juga tak menjadi tinggi hati. Bagi dirinya, Zaid tetaplah orang yang pintar dan patut dimuliakan. Karena hal tersebut, pada saat Zaid bin Tsabit wafat, Ibnu 'Abbas sambil berdiri di sebelah makamnya kemudian berujar, "Demikianlah bila ilmu pergi." Ibnu 'Abbas memandang kepergian Zaid bin Tsabit bagai kepergian ilmu itu sendiri.

Adapun kisah ini diceritakan dari asy-Sya'bi, sebagaimana dikutip Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy'ari dalam Irsyâdul Mu'minîn ilâ Sîrati Sayyidil Mursalîn wa Man Tabi'ahu minas Shahâbah wat Tâbi'în yang dihimpun dalam Irsyâduls Sârî.

Sebagaimana juga para sahabat lain, Zaid bin Tsabit al-Anshari dan Ibnu 'Abbas bukan merupakan dua orang yang selalu sepakat dalam sebuah hal pemikiran. Keduanya yang memang merupakan ahli fiqih tercatat pernah berselisih pendapat tentang bab warisan (farâidl). Akan tetapi, kearifan dan akhlak terpuji mereka berdua menjadikan perbedaan tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Artinya, boleh berbeda asalkan persaudaraan tetaplah terjalin dengan baik.


Kisah Islami Lainnya



Nah sobat, itulah tadi kisah kita kali ini tentang Kisah Zaid bin Tsabit dan Ibnu 'Abbas. Semoga bermanfaat dan menginspirasi kita semua tentang pentingnya toleransi dan saling menghormati diantara kita satu sama lain, tidak merasa lebih tinggi atau paling tinggi dibandingkan orang lain, dan senantiasa Tawadhu’ dan rendah hati. Sekian, Allahu a’lam.
advertisement