Dongeng Anak : Kebahagiaan untuk anak yang baik budi

advertisement

Dongeng Anak : Kebahagiaan untuk anak yang baik budi
Seorang Anak itu bernama Desima. Ia berumur kira-kira sepuluh tahun. Ia saat ini duduk di kelas empat sekolah dasar. Ayah Desima sudah meninggal dunia. Sekarang ia hanya tinggal bertiga bersama dengan Emak, dan seorang adiknya.
Setiap hari mereka selalu bekerja. Pekerjaan Emak membuat kue, Desima dan adik yang bertugas menjualnya. Kue itu yang mereka jajakan ke banyak tempat tempat.

Pada Suatu kali, saat Desima sedang menjajakan kuenya. Lorong-lorong pun ditelusurinya sambil membawa atau menjunjung kue diatas kepala. Satu demi satu kue pun di beli orang. Desima selalu melayani pembelinya dengan ramah dan sopan santun. Budi pekerti Desima yang baik luhur membuat orang-orang sangat suka padanya. Bila Desima lewat, mereka seringkali memanggilnya, dan kemudian membeli kue dari Desima.



Pada saat Menjelang senja, kue sudah habis terjual. Desima pun pulang menuju rumah. Dia ingin sekali cepat sampai, karena ingin menceritakan keberhasilannya dalam menjual kue pada ibunya.

Nah, Dalam perjalanan pulang, Desima melihat langit yang mendung. Angin pun bertiup dengan cukup kencang. Kilat saling sambar-menyambar. Tiba-tiba terdengar suara petir sangat menggelegar. Desima pun merasa amat ketakutan.
Tak lama kemudian, Hujan pun mulai turun. Desima berlari-lari kecil untuk mencari tempat berteduh. Di sebuah rumah kecil Desima pun terhenti. Dia berdiri sambil merapatkan badannya ke dinding rumah agar tak terkena hujan.
Namun, Hujan tidak kunjung berhenti. 

Desima sudah lama menunggu hujan reda. Lama kelamaan, hari pun mulai malam. Desima semakin merasa gelisah. Apakah dia harus berjalan dengan menerobos hujan deras ini?

Desima tak memiliki pilihan lain, dia harus segera pulang agar ibunya tak khawatir. Dia tak ingin ibunya jadi cemas dan mencarinya. Kemana ibunya akan mencari? Ia takut ibunya jadi jatuh sakit karena akan kehujanan.

Ia pun memberanikan diri, sambil menjunjung nampan tempat kue, Desima pun pergi meninggalkan rumah kecil tersebut. Dia melangkah terus menerus dalam hujan. Sesekali Desima terpeleset. Jalan terasa sangat licin dan juga gelap.
Ada seorang nenek yang baru pulang dari masjid dan nampaknya kenal pada Desima. Karena memang Desima selalu bergaul baik dengan siapa aja. Desima juga senang menolong orang. 

Desima pun dipanggilnya. rupanya nenek itu ingin memberi obor pada Desima. Karena malam kian gelap saja. Hujan juga masih turun. Nenek itu nampak sangat sayang pada Desima.

Setelah pamit dan mengucap terimakasih, dengan penuh hati-hati, Desima membawa obor yang diberi oleh nenek tadi. Obor itu yakni terbuat dari potongan bambu yang di isi kain yang di basahi dengan minyak tanah. Kain itu dimasukkan ke dalam potongan bamboo, dan ujungnya disulut dengan api. Desima selalu berusaha agar supaya api itu tak basah oleh air.

Sekujur tubuh Desima mulai merasa dingin. Ia terus melangkahkan kakinya. Akhirnya, ia pun sampai di rumahnya. Desima mulai menghela nafas sejenak. Perasaanya sangat lega. Desima segera masuk. Namun perasaanya kembali gelisah. Rumahnya rupanya hanya di tunggui oleh adiknya. Dugaan Desima rupanya benar. Emaknya sudah mencarinya.

Desima pun kembali menyalakan obor. Ia langsung segera pergi. Menurut adiknya, ibu mencarinya ke kampung seberang. Kampung seberang ada di seberang sungai yang melintasi desanya. Tadi sore Desima memang jualan ke sana. 

Desima pun kembali berjalan menerobos hujan. Langkahya mulai dipercepat. Ia ingin agar segera tiba di kampung seberang. Tidak jauh dari rumahya, ada sebuah sungai, Antara kampungnya dan kampung seberang yang dihubungkan oleh jembatan. Melewati jembatan itu Desima biasanya pulang pergi ke seberang.
Belum lama berjalan, tiba-tiba terdengar suara benda berat runtuh. "Brak...brak..brak.....", kemudian serasa hening mencekam. Suara apa itu? Desima tak jadi melangkah.

Desima mencari arah datangnya suara tadi. Rasa-rasanya suara itu datang dari arah jembatan.

Desima pun mencoba melangkah ke arah jembatan. Obor diangkatnya tinggi-tinggi agar supaya menerangi jalan. Desima pun terus melangkah.
Ternyata jembatan itu sudah di hantam air Bah yang cukup meluap, Besi tiang jembatan itu juga ikut jatuh ke dalam sungai.

Desima pun mulai panik. Pikirannya jadi kacau. Bukankah emak harus melewati jembatan itu agar sampai ke rumah. Desima semakin merasa cemas.
Maka, Dengan sekuat tenaga, Desima pun berteriak minta tolong. "Tolongg...tolong..jembatannya runtuh..!" namun suaranya hilang ditelan gemuruh air sungai dan terpaan air hujan yang deras.

Berkali-kali Desima mencoba berteriak, namun tak seorang pun yang dapat mendenganrnya.

Ingin sekali dia berlari mengatakan pada para penduduk, namun tempat itu jauh dari daerah keramaian. Dia semakin cemas, apa mungkin emak ikut jatuh ke dalam sungai?

“Ah...tidak mungkin...tidak mungkin!”
Desima tidak tahu harus pergi kemana. Dia benar-benar merasa bingung dan cemas.

Namun baiklah, aku akan segera memberitahukan hal ini pada orang yang ada di ujung jalan itu, kata Desima dalam hati.

Baru saja dia hendak pergi, sebuah cahaya yang terang muncul dan bergerak sangat cepat.

“Celaka .... sebuah buss penumpangg akan segera lewat!"
Bus itu pun semakin mendekat dan meluncur deras menujuu jembatan yang sudah ambruk itu. Dengan cepat Desima pun bergerak ke tengah jalan sambil mengangkatt obor yang ia pegang tinggi-tinggi.
Dia tidak peduli lagi dengan keselamatann dirinya, bus dan penumpangnyaa harus bisa diselamatkan.

Dalam jarak yang sangat dekat. Pak sopir pun melihat dan dengan seketika menginjak rem mendadak. Desima hampir aja dihantamm bus yang penuh penumpang itu.

Karena tidak kuasa lagi memegangg obor, persendian Desima serasa goyah, pandangannya pun kabur. Akhirnya dia roboh dan tak sadarkan diri.
Dikala sudah sadar, banyak orang-orang di sekelilingnya. Di antara mereka juga terlihat ada emak Desima. Matanya bengkakk, ia menanggis.

Di sebelahnya tampak sang adik yang sedang memandangi Desima dengan sayu. Desima baru sadar jika ia sekarang ada di rumah sakit. Orang-orang cukup ramai yang menjenguknya, sebagian dari mereka ialah penumpang bus yang selamat tersebut. Berbagai hadiah pun diberikan mereka pada Desima. Kepala kampung dan beberapaa tokoh masyarakat jugaa datang. Mereka menyalami Desima dan memuji akan keberanian dan pengorbanannya.

"Tanpaa budi baik Nak Desima, entah apa jadinya pada nasib keluarga kami." kata salah satu penumpangg bus.
Penghargaan terhadap Desima rupanya tak sampai disitu aja. Di sekolah guru-guru seringkali memuji dan bangga akan Desima. Ia dijadikan anak teladan bagi teman-temanyaa.

Ada sebuah Penghargaan lain yang datang dari pemilik bus yangg di tolong oleh Desima. Karena Desima berbudi baik, mereka ingin sekali mengangkatt Desima sebagai anak asuhnya. Mereka akan membiayaii sekolah Desima dan memberikann bimbingan dan juga bantuan yang di perlukann Desima dalam menuntut ilmu.
Sekian kisah kami kali ini untuk “Anak Suri Tauladan” semoga menginspirasi anak-anak Indonesia hingga menjadi anak yang baik dan berbudi pekerti yang luhur. Amiin ya robbal alamiin.
advertisement