Misteri Kisah Nyata Hantu Kepala Tanpa Badan Tempat Angker Jembatan Gantung

ads

Menguak Cerita Hantu Nyata Misteri Hantu Kepala Tanpa Badan Di Jembatan Gantung Angker Menebar Teror

Hantu tanpa kepala arwah orang meninggal penggalan kepala korban penculikan kerap terlihat di tempat angker ini yaitu di jembatan gantung Kemunculannya sering membuat kaget dan ketakutan para pengguna Jalan. Bahkan ada pula yang nekat bunuh diri. Lantas bagaimana menyiasati kondisi tersebut.

Cerita misteri kisah nyata hantu tanpa kepala sudah bukan menjadi rahasia lagi jika jembatan yang berada di ujung barat Gowasari dari sisi timur Jurang jero itu, tergolong tempat yang masih diselimuti daya mistik tinggi. Menurut warga setempat, itu semua terjadi karena di lokasi tersebut menjadi sentral gaib arwah  gentayangan.Atas dasar kondisi tersebut, maka kalangan spiritual selalu menyarankan, siapa saja yang bermaksud melintasi jembatan itu, untuk lebih dulu mempersiapkan lahir dan batin seutuhnya. Hingga sekarang, sudah banyak cerita hantu nyata peristiwa yang jauh dari nalar yang bisa menjadi bukti kemistikan tempat angker jembatan itu.

Secara fisik, kondisi jembatan diatas sungai berbatu itu tidak ada yang aneh, sama seperti jembatan lain pada pada umumnya. Bahkan, bila memandangnya sekilas, sulit menemukan kesan angkernya. Namun menurut mbok Juminem, Ia bisa merasakan ura keangkeran lokasi tersebut. Yakni bulu kuduknya selalu merinding setiap kali melintas disana bila berangkat maupun pulang dari pasar Bunder.

Lebih jauh wanita berusia 61 tahun itu mengungkapkan, penyebab keangkeran kawasan itu adalah karena bercokolnya hantu gentayangan disana.Hantu kepala tanpa tubuh itu, menurutnya, juga disetiap tahunnya memburu sedikitnya satu orang yang melintas di atas jembatan tersebut.

Dan hingga kini, entah sudah berapa banyak jumlah korban keusilan hantu tanpa kepala itu.Namun yang pasti, meski sedikit menurun, warga pengguna jembatan yang bercat hijau itu haruslah hati-hati saat melintas.Bukan hanya gangguan hantu kepala yang mesti dihindari, tetapi saat menapaki titian jembatan haruslah berhati-hati, karena papan-papannya sudah usang dan lapuk.

Uniknya lagi, arwah gentayangan yang sering mengusili warga yang ditemuinya di atas jembatan, mempunyai hobi aneh. Utamanya, arwah hantu kepala itu paling sula menggoda para wanita bakul ayam yang melintas di atas jembatan. Terlebih pada malam hari.Hal itu memang dirasakan pula oleh mbok Juminem. Bahkan nenek yang térlihat masih Iincah itu, mengaku, mempunyai pengalaman mistik dengan sosok hantu kepala yang hingga sekarang tak bisa terlupakan. Peristiwa itu terjadi pada satu malam di bulan Syuro, ketika dirinya melintas di jembatan angker itu saat pergi ke pasar.

Mbok Minem, Janda yang memang dikenal sangat pemberani, mengisahkan pengalaman kisah nyata hantu tersebut. Termasuk dalam menghadapi hal-hal yang mistik.Meski hal itu kini tinggal kenangan. Sebab, akibat diusili arwah hantu kepala, telah membuat nyalinya tak seberani dulu lagi. Sekarang jangankan di suruh pergi ke makam sendirian, untuk melewati jembatan itu saja harus menunggu orang yang akan melintas. Meskipun itu terjadi pada siang hari, terlebih pada malam hari Ia tak berani melakukannya.

Kisah Cerita Misteri Penampakan Hantu Kepala Tanpa Badan Di Jembatan Gantung Paling Angker


Mbok Minem, demikian panggilan akrab wanita asal desa Kampunan tersebut. Diceritakan, pagi itu, seperti biasanya, beberapa jam sebelum terdengar adzan subuh, dirinya pergi ke pasar tradisional, pasar Bunder.Meski waktu itu sebenarnya merasa capek setelah seharian ‘petik brambang’ di rumah tetangga, namun ia nekat berangkat juga. Sebab, ayam-ayam hasil kulakannya harus segera di jual kembali. Dengan begitu, modal pokok yang setiap hari diputar, akan terus berkembang meski pun Ia hanya dapat untung sedikit dari hasil kulakan.

Dengan mengenakan baju atasan dari kain jarit dan terusan bawah kain batik lasem, mbok Minem meninggalkan rumah setelah lebih dulu mengunci pintu.la berjalan sendirian di jalan kampung yang tak memiliki lampu penerangan. Ia terus berjalan menerobos dinginnya udara malam kawasan pegunungan.

Suasana sepi tak membuatnya mengurungkan niat. Sementara, tak seorangpun tetangga yang berniat sama seperti dirinya. Mereka lebih memilih tidur, dari pada capek-capek ke luar rumah.Mbok Minem yang ditinggal suaminya tujuh tahun silam itu, semakin jauh meninggalkan rumah. Meski tidak menggunakan lampu sorot (senter), ia dapat melakukan perjalanan dengan lancar. Pasalnya, malam itu rembulan cukup mampu menerangi jalan yang dilewatinya. Ia berjalan sambil memegangi ujung kedua kain yang di tali simpul.

Sementara punggungnya menahan beban bronjong seni yang diisi beberapa ekor ayam yang telah diikat kakinya. Untuk sedikit mengurangi rasa dingin yang masih terasa, ia terus berjalan tanpa memperdulikan suasana sekitar. Namun nenek bercucu dua itu.tidak tahu, saat itu sudah pukul berapa. Sebab, ia tidak memiliki alat penunjuk waktu, baik weker maupun jam dinding di rumah.

Cerita Hantu Cerita Seram Saksi Hantu Kepala Tanpa Tubuh Menebar Teror


Bagi mbok Minem, jam memang tak begitu penting. Satu-satunya alat penunjuk waktu yang dijadikan acuan, yaitu Matahari. Selama ada matahari, berarti siang dan waktunya bekerja.Sedang kalau matahari tenggelam, berarti hari sudah malam dan waktunya untuk istirahat.Tapi karena waktu itu modal untuk kulakan lagi sudah tidak ada, mbok Minem lebih memihih untuk tidak istirahat.

“Istirahat bisa tiap malam, tapi kalau modal sudah habis, mau apa lagi, terpaksa harus jual yam-ayam hasil kulakan tiga hari yang lalu,” demikian ia beralasan.

Setelah menyusuri jalan desa hampir satu jam Iamanya, mbok Minem akhirnya sampai di ujung jembatan gantung yang melintang diatas sungai gowasari. Tak ada jalan lain baginya, untuk tidak menggunakan jembatan tersebut. Karena jembatan itu merupakan satu-satunya akses yang menghubungkan desanya dengan jalan utama yang menuju ke arah pasar tradisional di kota.

Sungai Gowasari yang cukup dalam, memang menjadi pembatas antara desa dimana dirinya tinggal dengan desa Jurang jero. Meski air sungai jarang meluap, namun bagi orang yang tidak biasa melewati’ jembatan gantung, akan ketakutan. Karena, kondisi sungai gowasani yang curam dan penuh batu di dasarnya, terlihat sangat curam. Tapi bagi mbok Minem yang lahir di Batujamus, melewati jembatan gantung itu sudah hal yang biasa. Tak ada rasa kuwatir dan takut sama sekali, meski saat melewati jembatan tersebut akan bergoyang-goyang. Jangankan melewatinya sendirian, bersama puluhan orang sekaligus pun tak membuatnya ketakutan. Ia sudah tahu dan percaya akan kekuatan jembatan tersebut.

Mbok Minem baru saja hendak menapakan kakinya di jembatan itu. Namun, mendadak ia menghentikan Iangkah, lantaran mendengar bunyi suara,’ Koook... k000k.. .kokokokokokokokkk’, seperti suara ayam betina yang sedang birahi.

Suara ayam itu didengarnya begitu dekat, seperti diseputar pangkal jembatan. Karenanya, setelah menghentikan langkah, ia langsung mengarahkan perhatian ke asal suara. Di carinya ayam yang bersuara cukup keras itu.

Akan tetapi, meski beberapa lama mengamati sekeliling, Ia tak kunjung melihat sosok ayam tersebut. Dan secara perlahan, suaranya pun telah tidak terdengar lagi. Namun begitu, mbok Minem tak Iangsung melanjutkan penjalanannya. Ia justru sibuk’memeriksa ayam-ayamnya yang tak bersuara dalam bronjong seni di balik punggungnya.

Awalnya, mbok Minem menduga suara itu berasal dari ayamnya yang lepas. Meski agak cemas, Ia tetap saja berharap ayam itu muncul kembali. Beberapa lama menunggu suara ayam itu terdengar lagi. Dan, harapannya memang jadi kenyataan.Tak lama suara ayam itu terdengar lagi, tetapi agak jauh dari tempatnya berdiri. Yaitu dari arah semaksemak, beberapa meter sebelum pangkal jembatan Mbok Minem IaIu beranjak dan dengan hati-hati melangkah mendekati semak yang penuh dengan rumput ilalang itu.

Namun, saat dirinya sudah mendekati tempat itu, suara ayam tersebut mendadak lenyap lagi. Mengira si ayam takut setelah kedatanganya yang akan menangkapnya, la pun lalu menunggu sambil duduk di dekat semak. Tapi, belum sempat dia meletakan pantatnya, suara ayam itu sudah kembali tendengar. Dan kali itu, suaranya terdengar persis di depan mbok Minem. Maka, tanpa buang waktu lagi, meski belum terlihat wujud ayamnya, ia Iangsung menubruk semak-semak tersebut dengan gerakan cepat.

Seekor ayam memang berhasil ditangkap. Sudah barang tentu, hal itu membuatnya sangat senang.Apa lagi ayam itu sepertinya sudah jinak, diam saja ketika berada dalam pegangan tangannya. Tidak mau menyia-nyiakan rejeki yang didapat secara gratis, mbok Minem lantas membawa serta ayam tersebut untuk dijual juga. Dengan demikian ia akan memperoleh keuntungan yang Iumayan besar, nantinya. Sebab menurutnya, ayam betina yang diperolehnya dengan gratis itu ternyata fisiknya Iebih besar dari pada ayam-ayam yang ada dalam bronjongnya sendiri.

Ia lantas membawa ayam tersebut dengan cara mengapitnya (mengempit) di lengan tangan kanannya. Baru saja kakinya melangkah, tepat ketika berada di tengah badan jembatan, Ia merasakan ayam temuannya mendadak berat. Namun oleh mbok Minem, perubahan itu belum disadarinya.

Begitu pula saat dirinya mendengar suara, “Asyik. . .asyik asyik “. Hingga begitu lama ia belum juga menyadarinya, jika suara ayam itu berasal dari apitan Iengannya. Maka ia pun tetap saja berjalan dengan santai.

Namun, lama kelamaan, dirinya merasa curiga juga pada ayam yang diapit lengannya itu.Pasalnya, bobot ayam itu terus bertambah berat.Dan suaranya semakin jelas terdengar. Maka untuk membuktikan kecurigaannya, Ia segera mengangkat ayam itu. Dan, la pun kaget setengah mati begitu melihat apa yang dipegangnya. Ternyata, bukan ayam betina lagi, tetapi sepenggal kepala manusia dengan wajah menyeringai.

Mbok Minem bukan hanya kaget, tapi juga ketakutan setengah mati. Lebih-lebih ketika itu, penggalan kepala tersebut tampak menyeringai kepadanya, sehingga terlihat giginya yang runcing dan matanya melotot. Dan, akhirnya penggalan kepala itu tertawa mengejek mbok Minem yang ketakutan.

Baru menyadari apa yang terjadi, ia kemudian melemparkan kepala itu ke sungai. Tapi anehnya, seperti yang dilihatnya, penggalan kepala itu bukannya jatuh ke sungai, tetapi jüstru terbang melesat jauh. Menyaksikan itu semua, mbok Minem Iangsung Iari terbirit-birit meninggalkan jembatan gantung ia terus Iari menuju rumahnya tanpa berani menoleh ke belakang lagi. Bahkan malam itu Ia tidak jadi pergi ke pasar untuk menjual ayam-ayam kulakannya.

Sampai di rumah, Iangsung masuk kamar lalu mengunci pintu rapat-rapat. Ia tidak berani keluar kamar sampai pagi hari. Keesokan harinya,ia merasakan sekujur tubuhnya panas dingin. Meski tidak merasa sakit, namun badannya terus menggigil. Disampingitu, ingatannya terus terbayang pada penggalan kepala yang menyeramkan.

Kondisi tubuh yang panas dingin, dirasakannya selama tiga hari, dan selama itu pula, dia terus terbayang pada sosok yang telah mengusilinya. Setelah tiga hari, ia merasa sudah sehat kembali, namun begitu sejak kejadian itu hingga sekarang, dirinya mengaku tak berani lagi melewati jembatan gantung tersebut pada malam hari.

“Sampai sekarang, Mbok tak berani menceritakannya pada siapapun,” akunya dengan malu-malu.

Mbok Minem juga menambahkan, yang pernah mengalami peristiwa menakutkan seperti itu bukan hanya dirinya, melainkan hampir sebagian warga gowasari, Bedowo, Jurangjero dari Kampunan, merasakannya. Bahkan, menurutnya, tahun 2003 silam, seorang pengguna jembatan gantung itu menjadi korban keisengan. Korban waktu itu nekat menceburkan diri dengan cara terjun ke sungai yang airnya sedang deras, gara-gara gangguan arwah hantu kepala tanpa tubuh. Korban mengam bil tindakan nekat seperti itu, lantaran kebingungan menghindari teror itu saat di tengah jembatan.

Akibat tindakannya, tubuh korban sempat hanyut dan hilang berhari-hari, sebelum akhirnya ditemukan sudah tak bernyawa di daerah Pelemgadung, sekitar enam kilometer dari lokasi dirinya terjun.

“Mbok memang tidak melihat sendiri kejadiannya. Namun dari penuturan warga, kematian lelaki itu diyakini ada hubungannya dengan hantu kepala yang mendiami jembatan itu,” urai mbok Minem, mengakhiri kisah pengalamannya lima tahun silam.


Cerita Kisah Nyata Misteri Asal Usul Hantu Kepala Tanpa Tubuh Di Tempat Angker Jembatan Gantung


Menilik sisik Melik dari seringnya kejadian kisah nyata hantu mistik diatas jembatan gantung gowasari, beberapa paranormal dan sesepuh yang memiliki ilmu mumpuni yang berkeyakinan, bahwa keusilan dan gangguan tersebut di sebabkan oleh arwah salah seorang warga Karang malang yang diculik dan dibantai di lokasi tersebut, pada masa penjajahan. Bahkan beberapa orang pinisepuh yang hingga sekarang masih jumeneng, sedikitnya telah memperjelas historis perjuangan warga setempat di masa lalu.

Dikisahkan, dua puluh tahun setelah bung Karno memproklamirkan kemerdekaan RI, yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945, Indonesia berada pada kondisi sulit. Jutaan masyarakat tercekam ketakutan yang teramat sangat. Saling curiga satu sama lain, sulit terhindarkan. Sehingga wajar, bila waktu itu banyak korban pembantaian bergelimpangan dimana-mana sebagai akibat kekejaman kaum penjajah.

Demikian pula yang terjadi tenhadap salah satu warga di kecamatan Karangmalang. Lik Misrun, (bukan nama sebenarnya). Diapun akhirnya menjadi korban penculikan, dengan tuduhan terlibat gerakan 30 September 1965 (G3OS/PKI). Kebenaran akan tuduhan itu, hingga kini masih tanda tanya besar bagi keluarganya yang masih hidup.Bahkan keluarganya menganggap itu hanyalah Fitnah semata.

Meski kejadiannya sudah Iama, namun hingga kini, lokasi tempat dibantainya warga tersebut, dikenal sebagai lokasi tempat angker. Sampai sekarang, banyak diantaranya yang melihat arwahnya gentayangan.Menunut keterangan wanga setempat, Lik Misrun yang diduga terlibat G3OS/PKI itu, semasa hidupnya dikenal memiliki ilmu mumpuni yang sulit ditangkap tentara penjajah.Hal itu dibuktikan saat penangkapannya, yang tak kunjung berhasil.Sehingga kaum penjajah yang siap-siap untuk mengeksekusi, sering dibuat tak berkutik.

“Kaum penjajah itu memang dikenal sadis dalam menyiksa korban. Namun saat penangkapan Lik Misrun, mereka selalu tak berhasil,” jelas warga setempat.

Apa yang diungkap warga tadi juga dipertegas dengan keterangan mbah Gimin (73), yang tempat tinggalnya tak jauh dari lokasi pembantaian. Dalam keterangan itu, petani yang nyambi beternak bebek ini mengatakan, kalau Lik Misrun mempunyai kesaktian yang diluar jangkauan manusia biasa.

“Lik Misrun itu mempunyai genggeman (ilmu andalan) yang sulit dikalahkan. Sehingga bila tertangkap dia dapat lepas kembah.Meski sudah disiksa hampir mati, dia bisa kabur. Apa lagi kalau penyiksaan tersebut dilakukan ditempat terbuka, dan ditonton banyak orang/’ ujar mbah Gimin.

“Beliau dikenal berilmu tinggi. Dia hanya akan mati jika tubuhnya dipisahkan dari kepala.”

Meski mempunyai ilmu yang hebat, tetapi Lik Misrun tetap saja manusia biasa yang mempunyai kelemahan dan rasa takut sehingga untuk menghabisinya dapat juga terwujud. Hal itu berkat keterangan sang istri yang tertangkap dan dipaksa agar memberi keterangan tentang kelemahan suaminya. Mungkin karena merasa penyiksaan itu sudah berlebihan, Si istri akhirnya menceritakan cara mudah untuk mengeksekusinya.

“Waktu itu istrinya menjelaskan, bahwa kelemahan suaminya ternyata bisa dicari di sekitar rumpun bambu. Ternyata benda yang membuat Lik Misrun itu sakti, hanyalah serpihan kulit bambu (hinis bambu-bahasa sunda) yang dibuat sendiri oleh istrinya. Karuan saja setelah serpihan hinis itu didapat, para pengeksekusi dapat segera mengakhiri hidup Lik Misrun.Setelah Iehernya disayat serpihan hinis, kemudian dengan cara sadis, para eksekutor itu memenggal kepalanya hingga mati. Lalu tubuhnya digantung terbalik pada sebatang pohon bambu dan kepalanya dilempar ke sungai gowasari tak jauh dari lokasi pembantaian,” jelas duda tua itu menggambarkan kondisi saat itu.

Sementara itu Sayudi menjelaskan hal yang sama mengenai peristiwa tersebut. Bahkan dirinya juga menceritakan, selepas kematian Lik Misrun, lokasi tempat pembantaian menjadi tempat angker. Karena arwahnya sering kali menampakan diri.

Terlebis setelah dilokasi itu dibuatkan jembatan gantung, yang menghubungkan desa Kampunan, Gowasari dengan desa Jurang jero, “Secara hitungan, saya kurang tahu jelas kapan mulai terlihat oleh warga, jika arwahnya gentyangan. Yang jelas, arwahnya seringkali muncul di atas jembatan,” terangnya meyakinkan.

Tidak semata karena kemunculannya yang membuat warga takut,Namun lebih karena penampakan arwah Lik Misrun yang hanya terlihat kepalanya saja.Bahkan dalam kemunculannya, arwahnya selalu mencari tubuhnya yang hilang.

“Siapa yang tak takut melihat hantu kepala tanpa tubuh. Wong lihat hantu yang muncul dengan tubuh lengkap saja pasti Iari,” tambah Sayudi.

Lebih lanjut pria 51 tahun itu mengatakan, seiring bergullirnya waktu, warga akhirnya sepakat untuk menyempurnakan arwah Lik Misrun dengan mengundang paranormal. Anehnya meski telah menggelar ritual penyempurnaan, arwahnya tetap saja muncul. Hanya saja intensitasnya tak sesering dulu.

“Kata paranormal itu, bila orang yang memiliki kesaktian dan mati sebelum waktunya, selamanya akan tetap gentayangan,” papar lelaki bertubuh gempal itu.

Kemunculan arwah kepala itu hingga kini masih terjadi. Bahkan penampakannya sering kali berbuat usil pada warga yang ditemuinya.Utamanya, arwah Lik Misrun tidak suka pada orang yang bertabiat sombong, sompral dan sok kebarat-baratan. Setelah ditelusuri, ternyata ketidaksukaan Lik Misrun semasa hidup.

Dimana saat itu, dirinya tidak suka kepada orang sombong dan berlaga seperti orang bule (Belanda).Mulai dari pakaian yang dipakai hingga bicara keinggrisinggrisan. Sebab jika Lik Misrun melihat orang yang seperti itu dia akan membencinya serta menghajarnya hingga babak belur, meski telah beda alam. Dia memang sangat dendam dengan kaum penjajah.

Warga lainnya juga menambahkan, yang pernah merasakan amukan Lik Misrun, yakni Partolo, Si pemabuk berat dengan tubuh penuh lukisan tato. Saat sedang minum-minum, Partolo yang dikenal sembrono, tiba-tiba buang hajat di dekat lokasi pembantaian.

Selesai buang hajat, mendadak dia melihat sosok hantu kepala tanpa tubuh menghampirinya. Saat mendekat dan hantu kepala itu menyeringai, Partolo terjatuh dan pingsan.Karena tak melihat Partolo lama tidak kembali ke tempat mereka minum, temannya menjadi heran lantas mencarinya.

“Saat ditemukan ternyata Partolo pingsan di pinggir kali. Ketika siuman, manuknya (maap-kemaluannya) yang masih diluar celana, terlihat sebesar buah jeruk gulung. Hingga kini penyakit tersebut belum bisa disembuhkan. Dari kejadian itu, warga yakin jika hal itu akibat perbuatan arwah gentayangan Lik Misrun,” ungkap warga lainnya.

Keberadaan hantu kepala Lik Misrun itu sebenarnya sudah sangat meresahkan. Bahkan wargapun pernah berniat membongkar jembatan dengan lebar empat meter dan panjang empat puluh lima meter itu. Namun mengingat fungsinya yang begitu penting, niat itu dibatalkan.

“Memang ada beberapa warga yang rajin menyediakan sesaji di sekitar jembatan itu pada malam-malam tententu. Sesajinya seperti kue jajan pasan, kembang telon, bubur merah, bubur putih, telur ayam kampung dan hio serta kelapa hijau.Namun itu tidak menyurutkan gangguan arwah gentayangan hantu kepala tanpa tubuh Lik Misrun. Sosoknya tetap saja muncul.Bahkan beberapa warga atas imbauan ketua RT, dengan telaten menambal sulam papan-papan atau besi penyangga jembatan yang sudah lapuk dan menggantinya dengan yang baru.

Dengan begitu kamipun merasa lega atas kondisi jembatan tersebut, meski di katakan tempat angker tetapi kami berharap banyak akan keberadaannya. Soal jembatan itu angker atau tidak, itu urusan lain dan yang terpenting kami sudah berbuat banyak untuk kemaslahatan warga yang membutuhkan,” terang salah satu warga.Baca juga Ceritakisah nyata misteri hantu tanpa kepala di rumah angker
Itulah Kisah nyata cerita misteri hantu kepala tanpa tubuh yang sering meneror warga yang melewati tempat angker jembatan gantung

advertisement
Loading...