Dongeng Anak Cerita Rakyat Tampe Ruma Sani Legenda Flores Nusantara Tentang Kesabaran Dan Ketulusan Anak Tiri

ads

Cerpen Anak Cerita Dongeng Rakyat Tampe Ruma Sani Legenda Nusantara

Cerita Rakyat Dongeng anak kali ini akan berbagi cerpen anak tentang ratapan anak tiri cerita rakyat dari Flores.Cerita dongeng anak ini sangat mendidik anak agar meningkatkan kesabaran dan rasa tulus bekerja.Cerita legenda dari flores ini dapat juga sebagai dongeng sebelum tidur buat anak anak untuk meningkatkan hubungan orang tua dan anaknya.

Cerita Rakyat Dongeng Anak Legenda Nusantara Dari Flores Tampe Ruma Sani Tentang Kesabaran Dan Ketulusan

cerita anak dongeng anak cerita rakyat dari flores tampe ruma sani

AIkisah pada zaman dulu ada seorang anak perempuan yang suka menguncir rambutnya yang panjang bernama Tampe Ruma Sani. Namanya memang agak sulit, tetapi artinya begitu bermakna untuk masa depannya.

Tampe Ruma Sani sudah setahun ditinggal mati oleh ibunya. Kini dia hidup bersama ayah dan adik Ielakinya. Karena ayahnya bekerja sebagai nelayan dan adiknya masih sangat kecil, maka hampir semua pekerjaan rumah dilakukan oleh Tampe Ruma Sani. Setiap hari ia bertugas memasak, membersihkan rumah serta ikut menjual hasil tangkapan ayahnya. Meskipun demikian, gadis kecil itu tak pernah mengeluh.

Suatu hari, Tampe Ruma Sani bertugas menjual ikan hasil tangkapan ayahnya kemarin. Ia menjualnya ke pasar pagi-pagi, dan sebelum sore hari keranjang ikannya sudah kosong. Semua ikannya habis terjual.Tampe Ruma Sani segera pulang.Di tengah perjalanan, ia disapa oleh seorang perempuan.

“Anak manis, bagaimana ikan yang engkau jual sudah habis padahal hari belum lagi sore!’tanya seorang perempuan tersebut.

“Saya menjual ikan-ikan itu dengan harga murah agar lekas habis, sebab saya harus mengurus adik lelaki saya yang masih kecil, juga memasak untuk makan kami bertiga jawabTampe Ruma Sani.

“Oh! ternyata engkau punya adik kecil juga, siapakah namanya?”

“Adik lelakiku bernama Laga Ligo”

Perempuan itu terus menanyakan beberapa pertanyaan, seolah ingin sekali tahu banyak mengenai keluarga Tampe Ruma Sani. Gadis manis yang lugu itu pun tak punya prasangka buruk, Ia menjawab setiap pertanyaan dengan ceria.

Perempuan itu ternyata bermaksud untuk menikahi ayah Tampe Ruma Sani. Sejak perkenalannya dengan gadis itu, ia datang beberapa kali ke rumahnya. Perempuan itu mencoba mengambil hati ayah Tampe Ruma Sani. Ia ikut membantu mengerjakan pekerjaan rumah dan mengasuh Tampe Ruma Sani dan Laga Ligo. Lama kelamaan, hati ayah Tampe Ruma Sani pun Iuluh dan Ia menikahi perempuan itu agar kedua anaknya ada yang mengurus. Kini, perempuan itu menjadi ibu tiri Tampe Ruma Sani.

Tampe Ruma Sani pun senang karena tugasnya menjadi ringan. Ia tak perlu lagi mengerjakan pekerjaan rumah, semua sudah dilakukan ibu tirinya.Ia dapat menjual ikan dengan tenang, tanpa harus terburu-buru pulang. Namun hal itu tidak berarti Tampe Ruma Sani berpangku tangan. Ia tetap membantu ibu tirinya di rumah.

Sang ibu tiri kerap meminta Tampe Ruma Sani untuk menumbuk padi. Ia berpesan agar beras yang masih utuh harus dipisahkan dengan beras kecil yang sudah hancur. Tampe Ruma Sani tak paham mengapa beras-beras itu harus dipisahkan, tapi Ia menuruti kehendak ibu tirinya.

Beberapa bulan setelah ibu tiri tinggal di rumah, ia mulai berubah. Awalnya perempuan itu bersikap baik pada kedua anak tirinya, namun sekarang ia mulai suka memarahi mereka, dan kadang-kadang juga memukul jika kedua anak itu dianggapnya tidak menuruti kehendaknya. Sikap buruknya ini dilakukan jika sang ayah pergi melaut.

Jika sang ayah pulang, ibu tiri menyiapkan makanan yang sangat lezat lezat, namun jika suaminya pergi melaut, kedua anak itu hanya diberikan nasi yang dimasak dan beras hancur. Tentu saja Tampe Ruma Sani dan adiknya merasa sangat sedih. Mereka pun mengadukan perilaku ibu tiri kepada ayah mereka.

Sayangnya, sang ibu tiri ini pintar benar berkilah. Ia berhasil meyakinkan suaminya bahwa ia tidak bersalah dan kedua anak itu mengada-ada. Ia juga berhasil memengaruhi suaminya agar Iebih memercayainya.

Dan keesokkan harinya di saat ayahnya pergi untuk melaut kembali,Tampe Ruma Sani pun di pukulinya sampai babak belur oleh ibu tirinya karena telah mengadu kepada ayahnya.

“Berani-beraninya kalian melapor pada ayahmu!” bentaknya. ‘Ingat! Sekali lagi kalian mengadu, aku tidak segan-segan membunuh kalian berdua!” Suara keras sang ibu membuat kedua anak itu merasa ketakutan.

Dari hari ke hari, Tampe Ruma Sani dan adiknya menjalani kehidupan dengan penuh penderitan, namun mereka menghadapinya dengan penuh kesabaran.Tahun demi tahun berlalu, kedua anak itu sekarang sudah remaja. Mereka pun sepakat untuk hidup mandiri terbebas dari cengkraman ibu tiri, Mereka mengutarakan maksud tersebut kepada sang ayah dan meminta izin untuk merantau.

“Sekarang kami berdua sudah cukup dewasa, Ayah! izinkanlah saya dan kakak untuk merantau dan mengejar cita-cita serta pengalaman hidup diluar sana pinta Laga Ligo mewakili kakak perempuannya.

Awalnya sang ayah merasa sangat keberatan, namun akhirnya ia memberikan izin juga karena melihat tekad kedua anaknya sangat besar. Ibu tiri pun merasa senang sebab itu berarti ia tak perlu lagi capek-capek mengurus kedua anak itu.

Pagi-pagi buta,Tempa Ruma Sani dan Laga Ligo meninggalkan desa neIayan tempat kelahiran mereka berdua dan muIi merantau. Mereka terus berjalan tidak tentu arah dan tujuan, melalui hutan dan sungai yang belum pernah mereka ketahui.

Seteiah beberapa hari berjalan, perbekalan mereka pun mulai menipis. Kedua remaja itu mulai kelelahan. Beruntung mereka menemukan sebuah rumah di tengah hutan. Dengan penuh harapan untuk mendapat sedikit makanan dan pemilik rumah, mereka pun mengetuk pintunya.Namun Tak ada jawaban.

“Mungkinkah sang pemilik rumah sedang berpergian?”Tampe Ruma Sani berpikir.Karena rasa penasaran lalu keduanya pun mengetuk lagi pintu tersebut,namun juga tetap tidak ada sahutan dari dalam. Akhirnya mereka memberanikan diri untuk membuka pintu yang tidak terkunci.

Mereka pun masuk ke dalam rumah, dan menemukan bahwa rumah itu kosong. Namun anehnya, di meja tersedia makanan lezat yang sepertinya baru saja dimasak. Masih hangat dan mengepul. Terbit air liur keduanya Seketika melihat makanan tersebut, namun meski sangat kelaparan, mereka tak hendak menyentuhnya tanpa izin sang pemilik rumah.

“Lebih baik jika kita menunggu saja di dalam rumah, untuk menanti sang tuan pemilik rumah mah kembali sang kakak berkata kepada adiknya.

Mereka pun menanti pemilik rurnah, dan tertidur pulas karena kelelahan dan lapar. Ketika mereka terbangun, haru ternyata telah berganti pagi, namun pemilik rumah belum juga muncul. Keanehan terjadi lagi karena di meja makan telah tersaji makanan yang baru dimasak.

“Hah siapa yang telah memasak dan menghidangkan makanan ini? Mengapa kita tidak menyadari dan mengetahuinya?”

“Entahlah, Kak” Jawab adiknya. “Yang pasti aku sangat lapar. Bolehkah kita memakannya sedikit?”

“Ya, kukira tidak apa-apa. Nanti kalau ketahuan, kita akan menjelaskan pada pemiliki rumah. Lagipula sayang sekali jika makanan tersebut tidak dimakan.” Kakak beradik tersebut lantas memakan sajian tersebut sampai habis tidaktersisa. Setelah makan,Tampe Ruma Sani membersihkan piring dan peralatan makan.

Cerita Rakyat Dongeng Sebelum Tidur Tampe Ruma Sani Tentang Kesabaran Dan Ketulusan Menghadapi Ibu Tiri


Tiga hari sudah mereka tinggal menempati rumah di tengah hutan tersebut, namun mereka belum berjumpa dengan pemilik rumah. Dan setiap mereka bangun pagi, makanan hangat yang lezat-lezat selalu sudah tersedia di meja makan. Keduanya sangat heran, namun menikmati saja makanan yang tersedia dengan mengucapkan rasa syukur yang tak terhingga.Pada hari keempat sang kakak berkata kepada adiknya.

“Adikku, bagaimana jika makanan yang biasa tersaji tidak tersaji lagi pada hari-hari berikutnya? Apakah yang akan kita makan?”

Laga Ligo juga kebingungan, namun segera teringat sesuatu. Beberapa waktu yang lalu Ia melihat di sudut dapur ada tiga buah karung besar yang berisi cengkih, pala serta merica.

“Bagaimana kalau kita menjual rempah-rempah yang tersedia banyak dalam karung besar itu ke pasar, Kak?”

“Baiklah kalau begitu berangkatlah ke pasar, kakak tunggu saja di sini. Siapa tahu pemilik rumah datang.”

“Baiklah, tapi sebaiknya kakak hati-hati. Jangan membuka pintu untuk orang lain selama aku pergi” Sang adik pun segera berangkat membawa satu karung kecil rempah-rampah untuk menjualnya di pasar terdekat.

Pada saat yang sama, rombongan raja sedang berburu. Mereka keheranan menemukan rumah di tengah hutan itu. Raja penasaran siapakah yang berani tinggal serta membangun rumah di hutan lebat seperti ini. Dengan segera, ia memerintah pengawalnya untuk mengetuk pintu beberapa kali, namun tidak ada jawaban. Di dalam rumah, Tampe Ruma Sani tidak berani membukakan pintu rumah, dia diam saja tidak menjawab ketukan itu. Gadis manis itu justru bersembunyi di bawah meja dengan ketakutan.

Karena tidak mendapat jawaban, para pengawal raja memutuskan untuk masuk dan memeriksa keadaan. Awalnya mereka tak menemukan siapapun, dan tak melihat Tampe Rama Sani yang sedang bersembunyi. Akan tetapi, rambut gadis itu terlalu panjang untuk disembunyikan sehingga para pengawal segera menemukannya. Mereka meminta Tampe Rama Sani keluar dari persembunyiannya.

Dengan wajah ketakutan, Tampe Rama Sani akhirnya keluar dan menemui sang raja. Ia menceritakan kisahnya dan juga adiknya yang tengah menjual rempah di pasar. Sang raja pun iba, dan akhirnya mengajakTampe Rama Sani dan Laga Ligo untuk menjadi anak angkatnya. Mereka berdua pun hidup bahagia di istana.Jangan lewatkan juga
Itulah cerita rakyat dongeng anak sebelum tidur dari floress Tampe Ruma Sani untuk mendidik kesabaran dan ketulusan sang anak
Pesan Moral Dari Dongeng Cerita Rakyat Tampe Ruma Sani Yaitu:
Kesabaran dan kepasrahan yang tulus akan membuat kebahagian segera datang menjemputmu.
advertisement
Loading...