Cerita Mitos Mistis Misteri Pamali Pintu Rumah Menghadap Jalan Raya

ads

Cerita Mitos Mistis Primbon Pamali Tabu Pantangan Melayu Membuat Pintu Rumah Menghadap Jalan Raya

Setelah menempati rumah baru yang terletak di pinggir jalan raya yang tergolong sibuk, keluarga Andri seolah tak pernah ada yang sehat. Boleh dikata, secara bergantian, seisi rumah ada saja yang sakit..
Persahabatan kami terjalin, karena, boleh dikata, hampir tiap minggu, selalu membawa salah seorang anak, istri bahkan pembantunya untuk berobat. Penyakitnya pun bukan yang berat, hanya sekadar batuk, flu, diare atau gatal-gatal.Hari tu, menjelang tutup, untuk kesekian kalinya Andri sengaja datang untuk mencurahkan segala isi .
mitos mistis primbon melanggar pantangan pintu rumah
“Dok, kenapa sejak pindah rumah, keluargaku jadi penyakitan?” Tanya Andri dengan penuh selidik, “apakah ada yang tidak senang dengan kemajuan usahaku,” imbuhnya sambil melepaskan napas berat seolah hendak melepaskan impitan yang ada di dadanya.Belum lagi aku sempat menjawab, Andri terdengar bergumam; “Jangan-jangan karena aku melanggar tabu?”
“Maksudmu pemali?” Potongku.
“Ya ... kalau di sini biasa disebut tabu atau pantangan,”jawab Andri dengan lesu.
“Tabu yang mana?” Tanyaku penasaran.
“Bagi masyarakat Melayu, pantang membuat pintu rumah menghadap ke jalan raya. Penghuninya mudah terkena penyakit,” jawabnya acuh tak acuh.
“Oo.. , hanya itu yang terlontar dan mulutku, “kalau begitu, akan Iebih baik jika hal ini kau tanyakan pada tetua kampung atau orang yang dituakan di daerah sini,” imbuhku menyarankan.
Sesaat wajah Andri berbinar. Sesaat kemudian dahinya berkerut. Dan tak lama kemudian, terdengar suaranya lirih; “Tapi kepada siapa aku harus bertanya?”
Sesaat kami saling berpandangan.
“Atuk Abu, yang tinggal di belakang pasar,” usulku cepat.
“Ya ... beliau memang sosok yang dituakan. Hanya saja, kita harus pandai mengatur waktu untuk bertemu dengannya. Maklum, beliau tergolong sosok yang sukses, sehingga, jarang ada di tempat,” keluh Andri.
“Sabar ... yang penting, kita sudah punya pedoman untuk mencari jawaban dan masalah yang selama ini membebani pikiranmu,” ujarku memberi semangat.

Cerita Mitos Mistis Misteri Melanggar Pantangan Tabu Melayu Membuat Pintu Rumah Menghadap Jalan Raya


Hari terus berganti. Seminggu lagi kami baru bisa bertemu dengan Atuk Abu yang sudah sekian lama mengawasi perkebunan kelapa sawitnya yang lumayan luas di bilangan Kalimantan.Waktu yang dinanti pun tiba. Setelah sling memperkenalkan diri dan mempersilakan duduk, kami pun sejenak berbasa-basi memperkenalkann diri dan menceritakan kesibukan masing-masing.

“Oh ... dokter Iman. Ya.. anak saya yang kemarin jatuh dari motor berobat di klinik dokter Iman. Ya ... ya ... saya ingat,” kata Atuk Abu dengan wajah sumringah.
Sementara itu, seorang pembantu mengeluarkan teh hangat serta beberapa potong roti dan tak ketinggalan goreng pisang.
“Ayo ayo langsung dicoba,” kata Atuk Abu.
Kami pun menyeruput minuman dan mengambil sepotong goring pisang. Tak lama kemudian terdengar suara Atuk Abu; “Kalau anak ini siapa?”
Andri pun Iangsung menceritakan, bahwa, Ia dan keluarganya baru saja pindah ke rumah baru yang terletak tak jauh dari pasar. Atuk Abu pun terdiam menyimak segala kata yang keluar dari mulut Andi satu per satu.
“Begitulah Tuk, setelah pindah, kami sekeluarga jadi penyakitan. Tidak seperti dulu, kami sehat-sehat saja,” keluh Andri.
“Ha ... ha .. kalau tidak ada yang sakit, kasihan dokter Iman,” kata Atuk Abu berseloroh.Andri hanya bisa tersenyum kecut.
“Menurutnya, Ia telah melanggar tabu Tuk,” kata iman.
Atuk Abu langsung mengangguk-anggukkan kepala tanda mengerti. Tak lama kemudian, setelah mempersilakan kembali kedua tamunya untuk minum dan menikmati penganan yang telah disediakan, Atuk Abu pun berkata; “itu memang tabu masyarakat Melayu. Tapi, semua itu harus dikaji dengan saksama.”

Mitos Mistis Misteri Pamali Pantangan Tabu Melayu Membuat Pintu Rumah Menghadap Jalan Raya Penghuni Rumah Selalu Didera Penyakit


“Para tetua, membuat tabu itu bukan tanpa dasar. Jika pintu rumah menghadap ke jalan raya, yang pertama timbul adalah penyakit hati. Karena kita melihat pelbagai orang yang lalu lalang dengan gayanya masing-masing ... ada yang baru saja berbelanja, ada yang mengenakan perhiasan berlebihan bahkan ada pula yang sangat menderita,” imbuhnya menerang jelaskan.

“Jika kita tak kuat iman, maka, jalan pintas pun ditempuh. Selain itu, sekarang, bayangkan jika kendaraan yang lalu lalang ngebut dan menabrak rumah kita. Belum lagi debu yang terus berterbangan ... kesehatan, sudah barang tentu jadi terganggu. Apalagi jika pintu menghadap langsung ke jalan raya urainya menambahkan.

“Tak ada penyekat untuk mencegah debu debu itu. Kecuali, jika pintu rumah selalu tertutup,” pungkasnya.
“Luar biasa,” desisku.
“Ya ... jadi, para orang-orang tua dulu, sebenarnya, pemikirannya sudah jauh ke depan. Hanya saja, kita enggan untuk menggalinya. lronisnya, kita malahan menganggap pikiran tersebut sebagai mitos ...,“ jawabnya sambil tersenyum.
“Lalu, kenapa keluarga saya jadi penyakitan?” Potong Andri penasaran.
“Apa penyakitnya?” Tanya Atuk Abu sambil menatapku.
Aku pun menjawab, “Hanya sekadar batuk, flu, demam atau gatal-gatal.”
“Oh ..“, kata Atuk Abu, “jika menyimak apa yang tadi Atuk katakan, bukankah hal itu sangat berkaitan. Semua itu akibat debu yang berterbangan, ditambah, pekarangan numah Andri tidak ditumbuhi dengan tanam-tanaman. Upayakan yang rimbun dan merambat, dan akan lebih baikjika pintu rumah dipindah ke arah kanan. Yang sekarang ruang tamu, dijadikan beranda dan rumah tidak langsung menghadap ke jalan raya,” lanjutnya lagi.

“Kenapa harus dipindah?” Tanya Andri sambil garuk-garuk kepala.
“Agar debu tidak Iangsung masuk, sedang, tanam-tanaman, selain untuk menyejukkan mata juga bisa sebagai tirai alam,” jawabku mantap.
Atuk Abu pun tersenyum sambil mengangguk-anggukkan kepala. Agaknya, ia merasa puas karena aku mempu menerang jelaskan apa yang dikehendaki kepada Andri.Dan tak lama kemudian, terdengar Atuk Abu berkata, “Atuk rasa, dokter Iman benar-benar telah mengerti akan maksud dan tabu itu. Mulai sekarang, banyaklah bertanya dan berdiskusi kepada dokter iman. Tak perlu lagi menunggu Atuk.”

Sesaat aku memandang wajah Atuk Abu  yang dingin dan teduh itu.
“Dokter Iman pasti bisa menerangkan semua itu,” katanya dengan penuh keyakinan.Aku terperangah.Dan tak ama kemudian, karena sudah dianggap cukup, maka, kami pun pulang. Di tengah penjalanan, Andri yang masih penasaran masih saja bertanya, “Jadi, sebenarnya, tabu itu harus dipercaya atau tidak?”
Aku hanya bisa menggelengkan kepala. Tapi, karena Andri terus mendesak, akhirnya, aku pun menjawab; “Perhatikan, sebenarnya, kebanyakan tabu, pantangan atau pemali tidak lebih dari etika dalam berhidupan.”

“Nenek moyang kita sangat sadar, jika tidak diberikan sangsi, maka, tatanan etika berkehidupan kita bakal rusak. Oleh karena itu, mereka memberikan sangsi hukuman agar kita tidak melanggarnya,” jawabku sambil tersenyum.Aku menjelaskan, walau ada tabu, tapi apa daya, keserakahan sebagian orang telah membuat kerusakan hutan kian menjadi jadi. Jika ditelisik, tabu yang masih benar-benar melekat sampai sekarang adalah peninggalan cagar budaya. Karena dibumbui oleh aroma mistik yang demikian kental, maka, pelbagai cagar budaya yang berupa candi, kuburan serta benda-benda lain yang dianggap keramat masih tetap terjaga keutuhannya.

“Bayangkan jika candi-candi yang ada dirusak dan batunya digunakan untuk membangun rumah. Maka, selain kita kehilangan benda budaya, juga ada mata rantai sejarah yang terputus,” ujarku.
“Kita tak pernah tahu kebesaran dan kejayaan nenek moyang sendiri. Jangan sampai kita belajar sejarah dari bangsa asing,” lanjutku lagi.
“Benar, setuju itu,” potong Andri dengan semangat.
Sambil terus melangkah, aku pun menambahkan, “Sebenarnya, para tetua kita sangat pandai. Bahkan terbilang jenius. Hanya saja, mereka selalu mengungkapkan sesuatu dengan simbol. Dan kita diminta untuk berpikir, bukan hanya sekadar mengikuti sebagaimana yang diungkapkan. Dengan kata lain, kita diminta oleh para tetua untuk selalu berpikir, berpikir dan berpikir,” ujarku mengakhiri pembicaraan.

Andri kelihatan benar-benar puas. Wajahnya mulai tampak sumringah. Andri telah benar-benar kembali kepada jati dirinya. Setelah saling berjabat tangan dan mengucapkan salam perpisahan, aku kembali ke rumah yang terletak di samping klinik, sementara, Andri kembali ke rumahnya. Dalam hati aku memanjatkan puji syukur yang tak terhingga kepada Allah SWT akhirnya, Andri, yang selama ini terbayangi oleh mitos dapat kembali berpikin jernih.

Baca juga mitos mistis di berbagai negara dunia khususnya asia
Itulah mitos mistis misteri pamali tabu pantangan membuat pintu rumah dengan menghadap jalan raya penghuni rumahnya sering terkena sakit
advertisement
Loading...
loading...