Inilah Aneka Macam Ritual Tolak Bala Berbagai Suku Di Indonesia

ads

Macam-Macam Ritual Tolak Bala Berbagai Suku Di Indonesia

Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki ritual tolak bala yang bertujuan untuk menjaga keselamatan warganya.

Berikut ini beberapa macam ritual tolak bala di nusantara Indonesia:

 
ritual hukum saat tolak balak

  • Jimat Tolak Bala Suku Dayak

Suku Dayak memiliki jimat penolak bala yang dinamakan Penyang atau Penyong. Benda keramat itu diwariskan secara turun-ternurun oleh keluarga suku Dayak. Bentuknya bermacam-macam. Ada yang berupa kayu-kayuan, batu-batuan, botol-botol kecil yang tertutup rapat, juga taring binatang. Biasanya pemilik penyong menjadikan jimat itu sebagai mata kalung atau diikat bergelantungan pada sarung mandau.
Sebagian besar Suku Dayak meyakini penyang dihuni Jata Lalunjung Panjang yang bertempat tinggal di langit ke tiga.Karenanya, Suku Dayak yakin penyang yang mereka punyai memiliki kemampuan khususnya. Seperti bisa membuat kebal, menjadi berani, dan lain sebagainya.

Tidak cuma itu, ada pula penyang yang diyakini mampu menolak bala, bencana, mengobati orang sakit, menghindari gangguan makhluk halus, dan lain-lain.
Namun, pemilik penyang harus berhati-hati dalam menjaga jimat tersebut. Sebab, ada pantangan yang tidak boleh dilanggar. Salah satu pantangan yang paling umum ialah dilarang dilangkahi.

  • Ritual Tolak Bala Suku Using

Lain lagi Suku Using di Desa Kemiren Banyuwangi. Mereka memiliki tradisi setiap usai yang dinamakan Barong Ider Bumi. Sebuah ritual adat yang digelar untuk menjauhkan desa dari marabahaya. Ritual adat bersih desa ini dilakukan masyarakat Desa Kemiren, Kecamatan Glagah Banyuwangi ini setiap 2 Syawal. Tradisi ini ditandai dengan mengarak barong mengelilingi desa yang diakhiri dengan kenduri masal oleh warga di sepanjang jalan desa.

Pada Idul Fitri 1437 Hijriyah lalu, ritual Barong Ider Bumi digelar pada Kamis (7/7) tepat puku 15.00 WIB. Tradisi adat ini diawali ritual sembur othik-othik, yakni ritual melempar (menyembur) uang receh yang dicampur beras kuning dan bunga.
“Melempar uang receh dalam ritual ini melambangkan usaha warga untuk membuang (melempar) sial dari Desa Kemiren,” kata Suhaimi, ketua adat Desa Kemiren.

Usai ritual sembur othik-othik, seluruh warga mengarak tiga barong Osing yang diawali dari pusaran (gerbang masuk) desa ke arah barat menuju tempat mangku barong sejauh dua kilometer. Selain warga, para sesepuh juga ikut berjalan mengarak barong-barong tersebut sambil membawa dupa dan melafalkan doa-doa untuk keselamatan seluruh warga.

Setelah diarak sejauh dua kilometer, para Barong digiring kembali ke pusaran untuk selamatan bersama.dengan menggunakan tumpeng ‘pecel pitik’ (ayam kampung yang dibakar dengan ditaburi kelapa) sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta yang telah memberikan keberkahan.
Puluhan tumpeng ‘pecel pitik’ ditata rapi berjajar disepanjang jalan. Masyarakat dan pengunjung yang menyaksikan ritual sakral ini juga turut diajak kenduri karena setiap rumah membuat tumpeng yang sengaja disuguhkan untuk dinikmati warga lain yang hadir. Sangat meriah namun tetap sakral. Ritual ini telah dilakukan masyarakat Desa Kemiren sejak ratusan tahun yang lalu. Konon, saat itu Desa Kerniren terkena pageblug (wabah penyakit). Banyak orang yang pagi hari sakit sorenya meninggal. Tidak hanya wabah kematian yang menyerang warga, ratusan hektar sawah juga diserang hama sehingga menyebabkan gagal panen.


 Warga pun mengadakan tirakatan dan berdoa memohon petunjuk dan Yang Maha Kuasa.
Akhirnya, salah seorang tetua adat Desa Kemiren yang bernama Mbah Buyut dli mendapatkan wangsit lewat mimpinya. Dalam mimpinya, disebutkan untuk mengusir penyakit dan hama yang melanda desa, penduduk harus mengadakan selamatan kampung dengan menggelar ritual arak-arakan barong untuk menolak bencana. Warga pun lalu melaksanakan ritual sesual mimpi tetua desa. Dan terbukti benar, usai arak-arakan barong dilakukan, bencana menjauh dan desa menjadi damai sejahtera.

Barong adalah kostum dengan topeng dan asesoris yang merupakan penggambaran hewan yang menakutkan. Barong ini dipercaya oleh masyarakat Using memiliki kemampuan untuk mengusir roh jahat. Sejak saat itulah, ritual arak barong yang kini disebut Barong Ider Bumi ini menjadi tradisi warga Kemiren. Setiap 2 Syawal, barong diarak keliling desa dengan diiringi pembacaan macapat (tembang Jawa) yang berisi doa kepada Sang Khalik dan nenek moyang untuk menolak bahaya (bala) yang mengancam keselamatan penduduk desa.

Barong Ider Bumi ini salah satu agenda Banyuwangi Festival 2016.Pemda memasukkan tradisi ini ke dalam agenda wisata Banyuwangi Festival (B-Fest). ini dilakukan untuk menguatkan tradisi lokal agar tidak punah, senta sebagai syi’ar agar budaya asli Banyuwangi bisa dikenal masyarakat luas,” kata PIt. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, MY Bramuda saat menghadiri acara tersebut.

Ritual adat ini menjadi salah satu atraksi budaya yang menarik para warga. Ribuan warga terlihat tumplek blek memadati jalan sepanjang desa yang menjadi rute arak-arakan barong. Mereka bukan hanya warga lokal, namun juga masyarakat dari luar daerah Banyuwangi.

Seperti yang dituturkan Adam, pemudik asal Bandung. Kalau pas mudik ke rumah mertua, saya pasti nonton sama keluarga. Makan-makan pecel pitik nya ini Iho yang ngangenin. Keakrabannya sangat kental, selalu bikin rindu Banyuwangi. Saya terakhir nonton delapan tahun yang lalu. Jadi seneng banget, hari ini bisa ngikutin tradisi ini lagi,” kata Adam.

  • Ritual Tolak Bala Metulak Suku Sasak

Upacara Metulak yang dilakukan Suku Sasak di Lombok Nusa Tenggara Barat sampai saat ini masih dilestarikan. Kata Metulak sendiri berasal dan kata “me” dan “tulak”. Kata “me” dalam bahasa sasak adalah awalan yang bisa disisipkan kepada kata apa saja dan kata “tulak” berarti kembali. Secara keseluruhan arti dan kata metulak adalah mengembalikan atau lebih dikenal dengan tolak bala.
Upacara ini bertujuan untuk untuk menolak hama, penyakit, bencana dan gangguan roh jahat. Upacara metulak dikenal juga dengan istilah bersentulak. Upacara ini dilakukan oleh leluhur pra Islam, tetapi seiring clengan masuknya Islam, Upacara Metulak tetap dilaksanakan dengan memasukan unsur-unsur keislaman ke dalam upacara tersebut.

Mitos Mistis Ritual Tolak Bala Di Indonesia


Konon, Upacara Metulak pertama kali dilaksanakan oleh leluhur Suku Sasak di Desa Pujut, Lombok Tengah. Akan tetapi, belum ada sumber yang menyebutkan kapan tepatnya upacara itu pertama kali dilakukan. Hanya saja sumber lain menyebutkan bahwa islam masuk ke Pujut sekitar abad ke-16 dengan tokoh penyebar agama Islam adalah Wali Nyatok.

Pelaksanaan upacara adat Metulak disesuaikan dengan tujuannya. Misalnya jika upacara bertujuan untuk menolak wabah penyakit dilaksanakan sekitar 4 tahun sekali atau ada juga yang melakukan upacara metulak dalam kisaran waktu 1 atau 6 tahun sekali.

Setidaknya ada bebenapa perisitiwa dimana masyarakat suku sasak biasa melakukan Upacara Adat Metulak diantaranya adalah saat seseorang atau keluarga tertimpa sakit, saat pendirian dan penempatan rumah baru, saat pemotongan rambut bayi, saat keberangkatan haji, saat tertimpa wabah penyakit cacar dan saat padi baru berisi. Lazimnya upacara metulak ini dilaksanakan selama dua hari dua malam. Upacara ini dipimpin oleh seorang kepala desa (datu) dan dibantu oleh orang yang dituakan (penowaq), pembantu kepala desa (keliang), kyai, kelompok pembaca lontar (petabah), dukun (belian) dan pemangku.

Semua anggota prosesi ini memiliki tugas masing-masing yakni kepala desa bertugas memimpin upacara dengan dibantu keliang, penowaq bertugas untuk mengundang roh leluhur dari Dewi Anjani penguasa Gunung Rinjani dengan dibantu para perempuan yang sudah tidak haid lagi atau menopause dan kyai bertugas memimpin doa. Upacara ini biasanya digelar di rumah yang mempunyai hajat kecuali jika upacara dilakukan untuk menanggulangi wabah cacar biasanya dilakukan di rumah adat desa.

Upacara ini dihadiri oleh keluarga, kerabat dan warga desa yang masing-masing telah membawa botol kosong dan uang sebanyak 9 kepeng (uang koin yang hanya digunakan untuk sarat ritual saja tidak dipergunakan untuk alat tukar). Botol tersebut nantinya akan diisi air yang telah didoakan oleh belian lalu diminumkan kepada anggota keluarga yang sakit atau juga sebagai obat penolak bala.

Prosesi Adat Metulak ini terbagi menjadi 3 bagian yakni tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan penutup. Pada tahap persiapan dilakukan musyawarah untuk mengambil keputusan tentang tempat, waktu dan proses penyelenggaraan upacara. Musyawarah ini dilakukan di rumah kepala desa atau di rumah pemuka adat atau pemuka agama setempat.

 Setelah itu setiap rumah tangga membuat saweq. Kemudian mendirikan terop dan bambu dari anyaman daun kelapa (kelansah), mendirikan pondok bambu yang beratap ilalang tanpa dinding (das), mendirikan tempayan yang ditutup kelambu, menyiapkan lima penginang yaitu penginang selao, tulis, tombak, rowah dan sembeq, pembacaan lontar hikayat Nabi Yusuf, memasak gulai ayam dan menggelarTarung Parasean.
Dan untuk menghias tempayan dibutuhkan tanaman seperti nagasari, tandan uwan atau injan bonteyang termasuk tumbuhan yang langka sehingga harus dicari ke hutan atau desa lain.

Di tahap pelaksanaan, upacara ini dilaksanakan setelah Shalat lsya dengan diawali dengan pembacaan banzanji secara bergantian oleh jamaah, proses ini terbilang lama karena Banzanji yang dibaca berjumlah ratusan bait. Selama pembacaan Banzanji ini terus disuguhkan berbagai jenis makanan khas Lombok yang disebut dengan istilah Metun Manaek.

Makanan-makanan yang disajikan memilki symbol-simbol tensendiri yaitu tape (poteng) yang menyimbolkan daging manusia, tebu sebagai symbol tulang, sumping symbol sumsum, jongkong symbol isi tubuh manusia, ketupat dan tekel symbol pria dan wanita serta rowut symbol kehidupan.

Seusai pembacaan barzanji dilakukan pembacaan kisah (cakepan) nabi yusuf yang tertulis dalam lontar, dibacakan oleh petabah, kyai dan pemangku, selesai pembacaan bait ke 9, pembacaan dihentikan lalu kyai atau pemangku mencicipi serabi, serabi dicampurkan dengan santan,lalu digarami dan dicicipi selama 3 kali lalu pembacaan barzanji ini dilanjutkan setiap di akhir bait cerita Nabi Yusuf dilemparkan ke dalam sumur oleh saudaranya lontar dimasukan ke dalam air.

Setelah prosesi ini selesai acara dilanjutkan dengan makan bersama, sebelum makan dimulai di depan kyai diatur dolang, panginang rowah, air bunga celupan lampu biji jarak dan kemenyan. Seusai makan para pemangku mencampurkan air seloa dan air bunga celupan lampu biji jarak.
itulah berbagai macam mitos mistis misteri ritual menolak bala atau bencana di berbagai suku di Indonesia

Baca juga menguak mistik efek negatif dari benda pusaka seperti keris dan sebagainya


Air ini kemudian dibagikan kepada warga kemudian warga menyiramkan air di sekitar kandang atau di sawah dan diminumkan pada keluarga yang sakit. Air ini dipercaya bisa menolak bala. Setelah prosesi ini selesai keesokan harinya diadakan tarung peresean yakni tarung antar dua orang dengan menggunakan sebilah rotan. Setiap orang dibekali tameng kulit kambing atau rajutan rotan. Permainan ini berlangsung dari pagi hingga sore hari.

Itulah beberapa macam ritual tolak bala yang ada di Indonesia ini.

advertisement
Loading...
loading...