Cerita Mistis Nyata Kisah Ritual Mendatangkan Ikan Nelayan

ads

Cerita Mistis Nyata Kisah Ritual Mendatangkan Ikan Untuk Nelayan

Cerita mistis nyata terbaru hari ini,penulis akan berbagi kisah seseorang yang hampir saja bunuh diri menghadapi kepahitan hidup.Namun nasib baik beruntung menghampiri dirinya,seperti apa kisahnya ,kita simak.
Cerita mistis nyata di mulai setelah terjadi hal di luar dugaan, pria yang sangat kusayangi, Mas Pujianto, meninggal akibat kecelakaan lalu lintas di Ambawara, Semarang, di mana mobil sedan Mercy S 690 yang dikendarainya, masuk jurang Bukit Tabang, dan Mas Pujianto menghembuskan nafas terakhirnya di jepitan pohon randu. Namun beruntung, pernikahan itu tidak membuahkan anak.

cerita kisah mistis mistik misteri horor hantu seram legenda mitos
Sehingga penderitaan itu kualami tidak bersama anakku. Selama sepuluh tahun menikah, kami belum dikaruniai anak oleh Tuhan. Sebenarnya, aku dinyatakan dokter kandungan, bahwa rahimku subur. Hanya Mas Pujianto sedikit bermasalah dengan kesuburan hingga dia tidak mampu membuahiku. Maka itu kami tidak memiliki anak.

Namun walau kami tidak punya keturunan, tapi perkawinan kami sangatlah bahagia. Aku benar-benar senang, damai dan sejahtera bersama Mas Pujianto yang menjabat sebagai direktur Bank Jawa Jaya, sebuah bank swasta yang dulunya didirikan oleh mertuaku, ayah Mas Pujianto, Haji Masnuh Haryadi. Aku benar-benar disayang, dimanjakan dan dikasihi oleh suamiku ini. Lain dari itu, mertuaku juga sangat menyayangiku, seperti mengasihi anak kandungnya sendiri. Untuk itulah, aku selalu bersyukur kepada Tuhan yang telah begitu besar memberikan karunia kepadaku. Begitu banyak orang yang menyanyangiku dan aku menyangangi mereka.

Setiap liburan, terutama cuti akhir tahun, Mas Pujianto mengajak aku jalan-jalan ke luar Jawa. Bukan hanya Bali, tapi juga aku diajak ke raja Ampat, Papua Barat dan Maladewa, Bangkok dan Vietnam. Di rumahpun, aku dibahagiakan dengan mobil sedan mulus, uàng belanja yang banyak dan telpon seluler model terbaru.
Bahkan, karena aku suka salon, maka Mas Pujianto diam-diam membeli sebuah salon yang sudah jalan, diambil alih olehnya untuk aku kelola. Usaha itu, belakangan, setelah Mas Pujianto meninggal, jadi bangkrut total. Tidak ada pelanggan lagi dan aku tak mampu lagi menggaji karyawan. Semua karyawan aku PHK dan salon aku jual ke orang lain.

Selain salon, mobil, rumah dan tanah-tanah yang dibelikan Mas Pujianto, aku jual semua. Penjualan Itu bukan karena aku butuh uang, tapi karena nasehat gaibku, bahwa semua harta pemberian Mas Pujianto itu harus dijual agar aku kuat untuk melanjutkan kehidupanku. Bila tidak dijual, aku akan terus merana, tersiksa dan terancam akan sakit keras secara fisik dan mental.

“Kamu bisa gila jika harta pembelian Pujianto itu tidak kamu lego,” kata Kanjeng Gusti Bambang Sucipto, 78 tahun, kepadaku. Kanjeng Gusti Bambang Sucipto memang penasehat spiritual Mas Pujianto sejak lama. Bahkan, dimulai dari kakeknya Mas Pujianto, bapak dan mertuaku, Mbah Prawiro Samekto. Mbah berteman baik dengan Kanjeng Gusti Bambang Sucipto dan Kanjeng dipercaya benar sebagai penasehat spiritual keluarga Mbah Prawiro Samekto hingga ke cucunya, Mas Pujianto.

Karena saran Kanjeng Gusti, agar aku selamat meniti hidup,maka aku mengikuti kehendaknya. Aku menjual semua harta peninggalan Mas Pujianto hingga habis. Uangnya, aku belikan rumah di daerah lain. Aku membangun rumah di Jetisharjo, Wonosari, Gunung Kidul, dengan rancangan aku sendiri. Rumah itu berada di atas bukit Grendol, Baron Barat, menghadap ke Laut selatan. Rumah yang mirip bungalow yang menghadap ke Samudera Hindia.

Sesuai perintah Kanjeng Gusti Bambang Sucipto juga, aku menempati rumah itu bersama ibu kandungku yang sudah sepuh. Ayahku, sudah lama meninggal, yaitu sejak aku masih duduk di bangku kelas satu SMA Teladan, SMA Negeri I, Gampingan, Yogyakarta Barat.

Setelah tahlilan 40 hari Mas Pujianto, aku baru pundah ke rumah baru. Rumah yang jauh dari pemukiman dan jauh dari penduduk di kabupaten Gunung Kidul itu. Di situ aku beternak kambing, sapi dan bertanam-tanaman palawija. Yang mengelola adalah ponakanku, Mardi, 30 tahun, anak kakak tertuaku, yang sudah menikah dengan Tarsih dan mempunyai anak satu, Alika .Alike, cucu keponakanku ini, menjadi hiburanku. Alika sangat dekat denganku, karena mamanya, Tarsih mengajar SMP di Godean, Yogyakarta dan setiap hari naik motor Honda bebek pulang balik ke sana. Alika jadi seperti anakku dan aku sangat mencintai cucu keponakanku ini.

Entah kenapa, di tengah kebahagiaanku yang sumringah bersama Alike, tiba-tiba Alika sakit panas. Aku segera membawanya ke dokter Wonosari, diberi obat tetapi panas badannya tidak turun juga. Aku lalu mengeluarkan mobilku yang baru aku beli menuju dokter rumah sakit PKU Muhamadiyah di Ngupasan, Yogyakarta. Alika dirawat beberapa waktu, lalu seminggu di RS, meninggal dunia di Yogyakarta.
Kematian Alika menjadi pukulan maha hebat bagi aku, Tarsih, ibunya dan keponakanku, Mardi, bapaknya Alika. Kami benar-benar tenggelam dalam duka, kesedihan dan gundah gulana. Kepergian cucuku yang masih berumur setahun ini, membuat aku oleng dan tidak mau makan karena sedih. Begitu juga dengan Tarsih dan Mardi, mereka lemas, lemah dan hidup kehilangan semangat.

Namun aku ingat kepada Allah Azza Wajalla. Bahwa, di balik musibah ini, pikirku, Allah pasti punya rencana baik untuk kami semua. Setiap musibah yang diberikanNya, pasti ada hikmah di belakang musibah itu. Maka itu aku berusaha bersabar, tawakkal dan makin beriman kepada Sang Maha Pencipta, Allah Yang Maha Agung. Keponakanku, ayah Alika dan mamanya, belakangan memahami musibah ini dan mereka tabah, sabar dan tawakkal kepada Tuhan.

Rencana bunuh diriku gagal total. Alhamdulillah aku membatalkan terjun dari bukit Parangtritis, Yogya Selatan itu. Aku ingat Allah Yang Maha Kuasa, bahwa mati bunuh diri adalah dosa besar. Hukumnya adalah neraka jahanam. Maka itu aku buru-buru sadar, bahwa menerjunkan diriku di batu karang tajam, adaiah menyiksa diri secara fisik dan menyiksa diri setelah mati. Aku buru buru istighfar dan meminta maaf kepada Allah. Aku bersujud di bukit Keranggan dan meminta Allah melindungiku, menyayangiku dan mengasihiku selamanya.

Tiba-tiba langit mendung di atas Parangtritis. Awan hitam beranak dan angin kencang datang dari barat. Tubuh seakan melayang dibawa angin. Namun untunglah fisikku cukup kuat untuk bertahan hingga tidak oleng dan tidak terjatuh ke laut

Setelah angin kencang berhembus, kilat dan petir bergemuruh di atas laut. Aku segera turun dari Bukit Keranggan dan turun berjalan kaki menuju mobilku di Parang Kusumo. Pada saat melintasi sebuah pohon rimbun, pohon mahoni merah, aku ditegur oleh seorang wanita setengah baya yang keluar dari rimbunan belukar di bawah pohon mahoni.

“Dari mana Mbak, hujan hujan begini?”tanyanya, dari balik semak belukar, kepadaku.
“Oh, saya dari atas Bukit Keranggan Bu, lah ibu sendiri dari mana? Kok sendirian aja?” tanyaku.
“Aku baru saja dari goa Gembuli, di bawah sana, aku bertapa dan sudah tujuh hari di goa itu,” katanya, nyaris tanpa ekspresi.

 
Arkian, ternyata ibu itu adalah pertapa Goa Gembuli. Dia seorang janda yang ditinggal mati suaminya dan sedang memasak ilmu gaib di daerah Samudera Hindia dan laut selatan Yogyakarta ini. Kami ternyata senasib. Dia janda tanpa anak dan aku juga janda tanpa anak. Sejak itu, kami berteman dan Ibu Dewi, namanya, saya ajak tinggal di rumah saya di gunung Kidul.

Mitos Mistis Nyata Kisah Cerita Mistis Nyata Paranormal Lidah Sakti

SeIain baik budi dan hatinya, Ibu Dewi ini ternyata punya kelebihan ilmu gaib yang super hebat. Dia mampu membengkokkan tiàng listrik dan besi, mampu meminum air keras tanpa cedera dan mandi air keras seperti mandi air sumur biasa. Lebih dari itu, ucapannya seperti tajamnya pedang, lidahnya sakti mandraguna.
Bila katanya sukses, orang akan sukses. Bila katanya kaya, orang akan jadi kaya. Bila katanya lulus ujian, yang sedang ujian, setelahnya, akan lulus ujian. Hal itu sudah aku buktikan sendiri selama dia beradà di rumahku. Tidak terasa, lbu Dewi tinggal bersamaku selama setahun. Beberapa kali dia minta pulang ke Jakarta, namun aku melarangnya. Aku mengundang semua temanku yang bermasalah untuk bertemu Ibu Dewi, dan alhamdulillah, semuanya sukses. Maka itu, belakangan rumahku penuh oleh orang-orang yang datang meminta tolong kepada lbu Dewi, yang aku juluki Si Lidah Sakti.

Hingga kini hubungan baikku dengan lbu Dewi makin dekat. Bahkan kami sudah seperti adik-kakak. Bagaikan bersaudara kandung Aku mengagumi dirinya, seorang wanita janda yang punya ilmu sakti mandraguna. Seorang praktisi paranormal wanita yang benar-benar menjalani tata cara untuk menjadi mumpuni. Menjadi pelaku supramistika yang canggih.

“Saya melakukan pertapaan ini karena bisikan gaib dari suami saya. Suami saya juga seorang paranormal dan dialah yang mengajari saya semua ilmu gaib yang kini saya pegang. ilmu yang dikuasainya lama itu, semuanya diwariskannya kepadaku. Maka itu, aku tidak segan melakukan pertapaan di tempat angker sekalipun selama berbulan-bulan,” terang Ibu Dewi, kepadaku.

Ternyata, untuk kalangan dunia paranormal. ada suatu penjanjian bahwa dia tidak boleh hidup full duniawi. Yang dipikirkannya haruslah kebanyakan masalah surgawi. Maka itu, dengan sepenuh jiwa, sepenuh hatinya, Ibu Dewi menolong sesama.

Membantu orang yang berpenyakitan dan menolong kerejekian bagi orang-orang yang selama ini seret rejekinya. Doanya diizabah Allah dan Allah sayang kepadanya karena di melakukan apapun tapa-tapa berat dan jalan gaib berat untuk mengagungkan Allah dan berserah diri, bergantung dan bersandar kepada kekayaan Allah Azza Wajalla.

“Kekayaan dan kekutan serta ilmu Allah itu seluas jagat. Saya mengambil sebagian kecil dan karena Maha Kasih-Nya Allah, maka aku diberikan ilmu itu. Bagaimana aku mampu, karena ridho Allah, merubah air keras yang mematikan menjadi air mineral yang menyehatkan. Bahkan rnenyembuhkan segala macam penyakit,” desis Ibu Dewi.

Pada tahun 2017 ini lbu Dewi memilih tinggal di Depok, Jawa Barat. Sementara aku tetap mukim di Gunung Kidul, Daerah lstimewa Yoyakarta. Namun, setiap aku rindu, aku datang ke Depok dengan kereta api dari Stasiun Tugu Yogyakarta ke stasiun Gambir, jakartan Pusat. Dari stasiun Gambir aku naik ojek ke rumah lbu Dewi dan menginap selama seminggu di rumahnya yang sederhana di Depok.

Sementara jika tidak terlalu sibuk dengan pasiennya, Ibu Dewi datang ke Yogyakarta, menginap di rumahku di Gunung Kidul. Dia biasa sewa mobil dan sopir lalu jalan dari Depok ke wilayah timur, menginap di rumahku selama seminggu lalu berjalan melewati.jalur selatan menuju Pacitan, Jawa Timur. Di Pacitan, temyata nama Ibu Dewi sangat terkenal. Terutama bagi pejabat dan nelayan setempat. Soalnya puluhan tahun lalu, lbu Dewi melakukan ritual mencegah tsunami dan ritual mendatangkan ikan bagi nelayan.

Misteri Mitos Kisah Cerita Mistis Nyata Ritual Mendatangkan Ikan

Usahanya itu meledak, karena ikan begitu banyak mendatangi Pacitan dan nelayan mendapatkan tangkapan yang sangat banyak. Tadinya satu kapal nelayan dapat hanya 10 kilo, setelah diritual Ibu Dewi, nelayan mendapatkan 10 kwintal per-perahu. Bupati Pacitan kala itu mengundang Ibu Dewi dan Ibu Dewi sangat dihargai sebagai paranormal wanita mumpuni di Jawa Timur pesisir selatan. Sebab setelah itu, bu Dewi juga ritual mendatangkan ikan bagi melayan Trenggalek dan Banyuwangi.

Karena bersaudara dengan lbu Dewi, maka nasibku makin jauh lebih stabil. Aku berusaha ternak makin maju dan makin mendapatkan hasil yang memuaskan. Ternak kambing, sapi, ayam dan bebek yang aku lakukan, berhasil memberikan kesejahteraan bagi aku yang janda dan keponakan-keponakanku serta cucu keponakan yang tinggal di rumahku di Gunung Kidul.
itulah mitos mistis misteri nyata tentang paranormal berlidah sakti
Baca Juga Cerita mistis nyata mendatangkan emas lewat bantuan jin rumah angker peninggalan jepang

Aku makin banyak bersyukur dan makin dekat kepada Allah Yang Maha Pemurah. Karena kasih sayang Allah, maka aku batal bunuh diri dan tidak jadi mati konyol. Aku selalu berterima kasih, memuji kebesaran Allah dan berterima kasih kepada lbu Dewi, saudara angkatku, yang membantu dengan kekuatan doanya, dengan kesaktiannya hingga usahaku makin maju dan hidupku bahagia. Terima kasih Allah Azza Wajalla, terima lbu Dewi, yang doanya selalu diizabah Allah dan diridhoi-Nya. Semoga Ibu selalu sehat, aku sehat dan semuanya sehat walafiat dan sejahtera. Aamiin yaa robbal aalaarniin.(pengalaman pribadi Nur Hayati Asman,sumber:misteri)
advertisement
Loading...
loading...