Cerita Mistis Mitos Ritual Berburu Kecantikan Di Telaga Madirda

ads

Cerita Mistis Misteri Mitos Berburu Tuah Kecantikan Di Telaga Madirda

Mungkin ada orang yang beranggapan, bahwa cerita Sugriwa dan Subali dalam pewayangan hanyalah mitos yang melegenda belaka. Namun bagi sebagian besar warga Desa Kembang, Kecamatan Karangpandan, Karanganyar, Jawa Tengah kisah itu benar-benar terjadi. Buktinya di sana ada beberapa petilasan yang menguatkannya Bahkan kini Telaga Madirda diburu perempuan pendamba kecantikan dan awet muda dengan cara kungkum.

cerita mistis misteri berburu kecantikan di telaga
Areal di sekitar telaga Madirda yang berada di sudut Desa Kembang Karangpandan ini ada sejumlah petilasan berupa telaga, tempat pertapaan, batu penutup gua yang konon digunakan bertapa Sugriwa, salah satu tokoh pewayangan yang berwujud kera. Selain itu juga ada batu besar dalam cungkup yang dipercaya sebagai cupu manik astagina (batu jelmaan Dewi Dewi Indradi saat dikutuk suaminya, Gotama).cerita mistis nyata terbaru

Telaga yang berasal dari mata air tanah Gunung Lawu. Aliran mata air tanah tersebut mengalir langsung dari bukit melalui pancuran yang membentuk telaga.Sehingga air tersebut jernih dan di telaga itulah para wanita pendamba kecantik melakukan ritual kungkum. Para pelaku ritual supranatural meski kebanyakan perempuan, tetapi juga orang-orang yang berharap kekebalan kulit tubuhnya, sehingga tidak tedas tapak palune pande (tahan serangan benda tajam maupun benda tumpul).

“Apalagi menjelang pada masa pemilu, telaga ini banyak dikunjungi pelaku ritual, untuk menyongsong pemilihan calon-calon pemimpin yang diramalkan bakal terjadi ketegangan dan kerusuhan sehingga membutuhkan kekebalan secara fisik,” ujar Gus Aryo, salah satu spiritualis asal Solo ini.

Cerita Mistis Ritual Kecantikan Di  Telaga Madirda


Menurut Gus Aryo yang sering mendampingi dan membimbing orang yang ingin melakukan lelaku di Telaga Madirda  mengungkapkan, syarat untuk melakukan ritual kekebalan tubuh ini paling tepat pada malam Jum’at Wage dengan ritual pada tengah malam. Dengan syarat membawa dupa wangi, minyak japaron, benda bertuah, baik itu berupa batu akik, keris atau tumbak, kalung, maupun gelang. Benda-benda bertuah tadi dicampur dengan bunga sedap malam untuk disanggarkan di cupu manik astagina selama lelaku ritual.

“Kalau bisa benda bertuah yang akan disanggarkan ukurannya tidak terlalu besar, karena nanti untuk dikenakan atau diselipkan ke tubuh sebagai gembolan,” kata Gus Aryo,sembari menambahkan, benda-benda bertuah itu setelah diberi rapal dan disanggarkan akan berisi mahkluk gaib yang masuk dalam benda tersebut sebagai pusaka. Dengan demikian, kata Gus aryo, akan mampu melindungi serangan secara fisik maupun secara gaib dari orang yang berniat jahat kepada si pemegang benda bertuah ini.

Dijelaskan, benda-benda itu, memang awalnya tidak ada penunggu gaibnya, namun setelah disanggarkan semalam suntuk, niscaya memiliki tuah. Awalnya para pelaku ritual, sebelum melakukan semadi di dalam cungkup cupu manik astagina yang berada di sisi kiri telaga, tepat di atas bukit, disarankan untuk mandi keramas. Hal ini dimaksudkan sebagai Iangkah pensucian diri. Setelah menjalani ritual mandi keramas dan kungkum, di pancuran yang berada di sudutTelaga Madirda, baru kungkum di tengah telaga, dengan durasi sekitar satu jam lamanya.kisah misteri nyata terbaru

Dalam melakukan ritual kungkum, diharapkan bisa semadi dengan konsentrasi satu arah melalui batinnya untuk menyampaikan permohonan kepada Tuhan, agar selamat dari gangguan makhluk gaib yang suka mengganggu, berupa siluman di sekitar lokasi itu. Memang, kata Gus Aryo, orang yang menjalani ritual kungkum sering di ganggu siluman, ada yang berujud ular besar, harimau putih yang seolah-olah siap untuk memangsanya. “Namun hewan itu hanya hewan jadi-jadian yang akan menghilang, ketika kita tidak mengusiknya atau merasa takut,” ujarnya

Sebab kalau merasa ketakutan, akan memecah konsentrasi semadi. Dengan pikiran dan batin tenpecah, maka permohonan itu tidak akan terkabulkan. Bahkan salah-salah (misalnya, melawan siluman itu) orang tadi bisa kesurupan roh jahat, sehingga mengganggu orang yang semadi lainnya. Maka, lanjut Gus Aryo, para ritualis harus mengetahui kunci atau bacaan rapal sebagai kunci penolak gangguan gaib. Nah, seusai melakukan ritual kungkum, baru masuk dalam cungkup yang berisi cupu manik astagmna.

Di dalam cungkup di depan batu cupu manik astagina itu pelaku ritual untuk menyampaikan maksudnya secara batin, setelah membakar dupa dan menyanggarkan benda bertuah yang dibawanya. Selanjutnya, peritual segera keluar dari cungkup dan baru boleh mengambil benda bertuah itu saat menjelang fajar menyingsing. Begitu pula bagi perempuan yang berharap kecantikan dan awet muda juga harus melakukan pensucian diri dengan kungkum di Telaga Madirda.“Perbedaanya, perempuan itu tidak perlu membawa benda bertuah, namun harus membasuh muka 7 kali dengan rapal tertentu,” jelasnya

Cerita Misteri Legenda Pewayangan Subali Dan Sugriwa


Dalam pewayangan Jawa, Subali dan Sugriwa pada mulanya terlahir sebagai manusia normal. Keduanya masing-masing bernama Guwarsi dan Guwarsa. Mereka merniliki kakak perempuan bernama Anjani. Ketiganya dari hasil perkawinan antara Resi Gotama dengan Dewi Indradi yang tinggal di Pertapaan Agrastina. Pada suatu hari Anjani, Guwarsi dan Guwarsa berselisih memperebutkan cupu milik ibunya yang luar biasa indahnya. Hal itu diketahui Gotama,suaminya.Indradi pun dipanggil dan ditanya dari mana cupu tersebut berasal.

Gotama sebenarnya mengetahui kalau cupu itu adalah benda kahyangan milik Batara Surya yang bernama cupu manik astagina. Indradi yang ketakutan hanya mampu terdiam, tak mau menjawab pertanyaan suaminya. Gotama pun marah, karena merasa dikhianati dan mengutuk istrinya itu menjadi tugu. Ia lalu melemparkan tugu tersebut sejauh-jauhnya, sampai jatuh di perbatasan Kerajaan Aléngka. Meskipun kehilangan ibu, ketiga anak itu seolah tak menghiraukan, mereka tetap saja mernperebutkan cupu manik astagina. Gotama pun membuang benda itu jauh-jauh. Tanpa sepengetahuan siapa pun, Cupu Astagina jatuh di sebuah tanah kosong dan berubah menjadi telaga. Yang selanjutnya disebut Telaga Madirda.

Guwarsi dan Guwarsa begitu sampai di dekat telaga itu segera menceburkan diri, karena mengira cupu yang mereka cari jatuh ke dalamnya. Seketika itu juga wujud keduanya berubah menjadi wanara atau kera. Sementara itu, Anjani yang tiba di telaga itu belakangan, merasa kelelahan dan kepanasan. Ia pun mencuci muka menggunakan air telaga tersebut. Akibatnya, wajah dan lengannya berubah menjadi wajah dan lengan kera. Anjani, Guwarsi, dan Guwarsa menghadap Gotama dengan perasaan sedih. Ketiganya pun diperintahkan untuk bertapa menyucikan diri, Anjani bertapa di Telaga Madirda.

Dari hasil olah batin dengan bertapa itu, maka Anjani bertemu Batara Guru dan memperoleh seorang putra bernama Hanoman. Sementara itu Guwarsi dan Guwarsa yang telah berganti nama menjadi Subali dan Sugriwa masing-masing bertapa di Gunung dan Hutan Sunyapringga. Ketiga anak Gotama tersebut berangkat ke tempat tujuan masing-masing. Sesuai petunjuk ayah mereka, Anjani bertapa dengan gaya berendam telanjang seperti seekor katak, Subali menggantung di dahan pohon seperti seekor kelelawar, sedangkan Sugriwa mengangkat sebelah kakinya seperti seekor kijang.

Cerita Mistis Mitos Pewayangan Subali Dan Sugriwa Bukan Sekedar Cerita


 Dari kisah tersebut,di lingkungan telaga Madirda yang ada di Dukuh Kembang semua petilasan yang disebutkan semuanya ada, baik hutan tempat Sugriwa dan subali bertapa, telaga tempat kungkum Anjani, maupun cupu manik astagina. Dengan demikian warga di sana sangat yakin kalau Telaga Madirda tersebut sangat berhubungan erat dengan kisah pewayangan tadi. Memang cerita mitos itu kadang mampu melegenda dan dipercaya keberadaannya. Hanya sayangnya Telaga Madirda sebagai salah satu aset wisata Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah ini belum digarap secara optimal pihak pemerintah setempat.

Padahal suasana di sekitar telaga itu cukup baik, bersih, berudara dingin yang berada di lereng Gunung Lawu, sehingga menimbulkan suasana asri dipandang mata. Apalagi area Telaga madirda ini berada di sudut pedesaan yang jauh dari pemukiman penduduk. Hanya sayangnya, jalanan di pinggir area menuju Telaga Madirda itu masih sempit, terjal, dikerumuni tumbuhan liar yang tak teratur dan licin pada musim hujan begini.

“Jalan itu hanya cukup untuk satu arah sepeda motor saja, sehingga perlu dilebarkan sehingga bisa untuk simpangan kendaraan lain,” tutur Gus Aryo yang juga pemandu wisata Kraton Surakarta.

Di samping itu area di pinggir telaga juga masih sangat sempit, sehingga kurang nyaman untuk nglaras wisatawan, sambil menikmati pemandangan yang ada di sekitarnya. Untuk itu warga setempat juga berharap Pemda Karanganyan melalui Dinas Pariwisata untuk segera membangun jalan sepanjang kurang lebih 0,5 kilo meter dengan aspal atau bentuk Paving. Malah saking sempitnya jalan, maka tidak mampu untuk masuk mobil. Pepohonan besar yang rimbun yang berada di pinggir telaga juga masih jarang dan belum tertata, sehingga kesulitan mencari tempat berteduh pengunjung.

Padahal, jika pemerintah setempat mau membangun area sekitan Telaga Madirda, masyarakat setempat yakin akan tambah ramai pengunjung yang bukan saja hanya sebagai wisata ritual saja,.tetapi juga wisata pegunungan. Dengan demikian akan menambah PAD (pendapatan asli daerah) pemerintah setempat. Selanjutnya, juga bisa untuk menambah penghasilan warga yang tinggal disekitarnya, baik untuk menjadi tukang parkir kendaraan bermotor, penyewaan tikar, juga pemandu wisata serta pemberdayaan tenaga lain di sekitar area telaga tersebut.

Hal ini juga dibenarkan Supadi (58), salah satu warga Desa Kembang Karanganyar yang ditemui secara terpisah mengatakan. Sebagai penduduk asli setempat, dia mengkhawatirkan masa depan keturunannya yang dalam perkembangan akan semakin banyak, akan kesulitan mencari pekerjaan dengan mapan, karena warga setempat jauh dari tempat pendidikan yang memadai, karena lokasinya berada lereng gunung yang jauh dari perkotaan. “Kami merasa was-was dengan masa depan anak-anak kami, karena sekarang saja banyak pemuda di sini yang menganggur,” keluhnya

Baca Juga cerita sukes rahasia pesugihan para pedagang batik
Itulah penjabaran dari tempat untuk ritual kecantikan bagi wanita agar selalu terlihat bercahaya dan awet muda
Supadi juga mengatakan, sesuai dengan cerita dari mulut ke mulut dan nenek moyangnya, kisah tentang Telaga Madirda tersebut masih ada hubungannya dengan cerita pewayangan dengan lakon Sugriwa— Subali. Memang ada orang yang menganggap kalau kisah itu hanya sebagai mitos yang melegenda. Tetapi warga setempat sangat yakin, kisah yang melatarbelakangi area Telaga Madirda tersebut sebagai cerita yang bisa menjadi kenyataan.
advertisement
Loading...