Cerita Mistis Kesambet Setan Jurig Jurian Part 3

ads

Kisah mistis misteri Pengalaman sejati

Kisah yang akan saya bagikan berikut ini adalah cerita mistis yang dialami oleh seorang supir angkot yang diteror oleh suara auman harimau siluman.Cerita mistis kesambet jurig jurian ini merupakan bagian yang keempat.
Bagi kamu yang belum membaca Kisah misteri kesambet jurig jurian Part 1 Baca klik disini.Dan yang belum membaca

Inilah Bagian ketiga Cerita Horor Mistis Kesambet Jurig Jurian Part 3

..... Dan berpesan bahwa Dia sangat perlu untuk mengatakan sesuatu yang penting. Begitu terdengar biskan tanpa wujud itu, akupun segera menghentikan pembacaan AI-Qur’an.
Aku mencari asal suara tersebut. Tapi, aku tidak menemukan siapa-siapa. Bahkan begitupun suara auman macan mendadak lenyap. Aku tetap terdiam di atas sajadah, menanti bisikan tanpa wujud itu kembali terdengar. Namun hingga ditunggu sekian lama, suara kakek tanpa wujud tu tak terdengar lagi.

Cerita Kisah Misteri Mistis Nyata Kesambet Khodam Macan


Hari itu aku bangun kesiangan. Tubuhku terasa kurang sehat. Tulang-tulang seperti remuk, namun begitu aku tetap pergi untuk menarik angkot karena aku harus menghidupi anak. Yang jadi masalahnya, kenapa belakangan ini, kejadian demi kejadian tak masuk akal sering kali menggangguku?

Seperti kejadian di sore menjelang malam saat angkotku mogok. Waktu itu, di sebuah jalan sepi yang mengarah ke Tanjungpura, angkotku mendadak mati. Kucoba memeriksa kondisi mesin, akan tetapi hingga berjam-jam mesinnya tak juga menyala. Terbesit dalam pikiran untuk mendorongnya ke bengkel. Namun itu mustahil kulakukan, jika tak ada orang yang membantu untuk mendorong. Sebab, seingatku, sejak mobilku mogok, jangankan kendaraan, manusia saja tak ada yang mau lewat. Apakah aku harus nekat meninggalkan angkot dan berjalan menuju prapatan Tanjungpura.

“Entong bingung-bingung, jang Sabar wae nya!” Suara itu menyentakkanku dari lamunan. Aku terkejut ketika kulihat Pak Tua tiba-tiba sudah berada di belakangku. Dia nampak terkekeh-kekeh dan terbatuk-batuk sembari menatap wajahku yang masih bengong keheranan.
Bahkan kali ini Pak Tua sepertinya mampu membaca pikiranku. Dengan tenang di mendekatiku. “Kunaon mobilna, mogok?” tanyanya dalam bahasa sunda.

“Geus tong dipikiran,” sambungnya. “Atawa Si ujang can meunang duit keur setornya?” Ditanya seperti itu tentu saja aku kaget. Tahu dari mana, jika aku belum mendapat uang untuk setoran angkotku? Mungkin dia hanya menebak saja, begitu pikirku.
“Abah, tos timana, ujug-ujug aya didieu. Kunaon daganganana ditingga!keun? Apa tos laris nya?” tanyaku mencoba mengalihkan perbincangan.

Pak Tua tidak menjawab. Tetapi jawabannya tidak nyambung dengan apa yang aku tanyakan.
“Hatur nuhun, geus sababaraha poe ujang daek ngabaturan abah. Geus wawuh jeung abab. Padahal kaayaan abah nu sakieu pigeuleuheun, nya?” katanya lagi.
“ujangjelemana bageur, sabar. Sok perhatian ka batur Persis bapak ujang
baheula keur hirup keneh. Jelemana karunyaan kabatur, sumereh hatena. Mudah-mudahan, ujang dibere rejeki nuloba,” katanya seolah mendoakan.Sangat beda dengan sikapnya, sewaktu aku mengenalnya pertama kali, yang lebih banyak diam.

Mendengar penuturannya dan bahkan Pak Tua ternyata telah mengenal ayahku semasa masih hidup. Penasaranku kian bertambah, siapa Pak Tua ini sebenarnya. Teman ayahku atau salah satu saudaranya yang tak sempat aku kenali. Pak Tua begitu tahu banyak tentang ayahku. Bahkan dia mampu membaca pikiranku yang sedang kebingungan masalah setoran.
“Ujang sabar wae. UIah mahiwal. Mending loba syukur wae nya? Urang pan teu nyaho iraha rejeki rek datang,” katanya meyakinkanku.

Setelah berujar demikian, Pak Tua berpamitan untuk pergi. Sebenarnya aku ingin mengantarnya ke tempat berjualannya. Aku tak mampu berbuat banyak saat angkotku mogok. Akan tetapi, ketika aku mencoba memberinya saran untuk tetap tinggal sementara aku mencari bantuan, Pak Tua sudah tidak nampak, entah pergi kemana. Padahal jalan raya yang menuju ke Tanjungpura itu, jelas tidak memiliki gang yang menuju ke kampung Gempol. Tak urung kejadian tersebut sempat membuatku heran.

Sejak peristiwa itu, kata-kata Pak Tua terus mengiang di benakku. Apakah makna dari semua itu. Apakah hanya sekedar menarik simpati sebagaimana siasat para pedagang jika sedang beraksi menjajakan dagangannya. Dugaanku yang tak berdasar itu, rupanya harus tertepiskan.

Apa yang dikatakan PakTua, ternyata menjadi kenyataan. Beberapa saat setelah merenung memikirkan sosoknya, mendadak kulihat sebuah mini bus warna silver mendekat dan berhenti di sebelahku. Tak lama turun sopirnya dan memintaku untuk mengantar keluarganya yang pulang besuk dari rumah sakit Islam.
Aku begitu terkesiap mendengar penjelasannya, yang ternyata bersedia membayar ongkos lebih. Bahkan ketika aku menjelaskan bahwa angkotku sedang mogok, sopir itu seolah tidak penduli, aku dikiranya berbohong. Dia bahkan tanpa ragu mengetes angkotku, apakah benar mesinnya mati. Dan alangkah terkejutnya aku, saat sopir itu menyalakan kunci kontak. Sungguh di luan dugaan, angkotku tiba-tiba menyala. Tentu saja aku terkejut dan sungguh sulit untukdipercaya.

Bahkan ketika sopir tak kukenal itu berhasil mengetes angkotku, dia semakin mendesakku agar sudi membawa pulang keluarganya. Tentu saja meski aku masih bingung dan tak tahu harus berbuat apa, aku menuruti kemauan orang itu untuk menjemput keluarganya yang baru pulang bezuk.
Penumpang berjumlah tiga belas orang itu memintaku mengantarkannya ke Tunggakjati. Tentu saja kesempatan itu tak kusia-siakan, rombongan yang mayoritas kaum ibu yang baru saja pulang membesuk saudaranya cli rumah sakit itu segera kubawa menuju lokasi yang di minta. Malam itu aku benar-benar bersyukur. Karena mereka terlalu baik. Sebelum aku kembali pergi, aku dibayarnya lebih dari cukup.

Kemujuran kiranya memang sedang ada di pihakku. Setelah menurunkan semua penumpang tadi, beberapa calon penumpang yang sepertinya karyawan sebuah perusahaan, menyetopku di pinggir jalan. Mereka memintaku mengantarkan ke PT. Boneka di kawasan Paracis. Begitu pula saat pulang dari Paracis, angkot yang kubawa ini benar-benar tidak pernah kosong. Ada saja penumpang yang naik dan meminta diantar ke tujuan mereka. Hingga tas kulit yang selalu kempes dan kubawa-bawa tiap hari, kali ini sudah sesak oleh tumpukan uang.

Pokoknya, waktu itu aku sampai mendapat hasil tarikan yang luar biasa. Sepuluh kali lipat dari uang setoran. Aku sangat bersyukur, aku tidak pusing memikirkan setoran. Aku merasa bangga memperoleh rejeki lebih. Bahkan saat itulah aku baru tersadar akan ucapan Pak tua bahwa aku akan mendapat rejeki nomplok.
Kenyataannya memang benar. Yang membuatku heran, kenapa Pak Tua mampu menerawang nasib orang lain. Sekitar pukul sembilan malam aku pulang mengandangkan mobil.

Cerita Misteri Kisah Mistis Nyata Kesambet Khodam Macan Hitam Leluhur


Dan berencana untuk menemui Pak tua. Pada jam-jam seperti ini, biasanya beliau masih nongkrong berjualan. Namun ketika kuhampiri tempatnya berjualan, aku tidak menemukan sosoknya. Karena tak biasanya,hal itu terjadi, membuatku penuh tanda tanya dan berusaha mencari tahu. Kudatangi rumahnya yang hanya tiga ratus meter jaraknya dari tempatnya berjualan.

Tiba di bangunan luas yang hanya berdindingkan bilik anyaman bambu, kulongokkan kepala lewat pintu depan yang sedikit terbuka. Dan dengan mudah, aku bisa menemukan PakTua di dalamnya. Aku baru ingat kejadian malam lalu, ketika aku belum sempat melihat isi gudang tersebut. Ternyata, bangunan ini hanya memiliki satu ruangan. Tanpa sekat-sekat. Perlahan kuperlebar daun pintu kemudian aku masuk perlahan.
itulah kisah misteri cerita mistis jurig jarian bagian ke 3,silahkan lanjut ke bagian 4
Setelah kututup kembali aku melangkahkan kaki mendekati ranjang. Ternyata, bangunan itu hanya memiliki satu ruangan, tanpa sekat-sekat. Tampak Pak Tua sedang tiduran di atas ranjang bambu. Tubuhnya diselimuti kain tebal berwarna hitam pekat, yang sudah kusam. Bersambung....ke Part 4
Untuk membaca kelanjutan kisah mistis misterinya klik DisiniKisah Misteri Kesambet JurigJarian Part 4 >>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>>
jangan lewatkan ya sambungannya
advertisement
Loading...
loading...