Misteri Pesugihan Tikus Ngepet,Bukan Cuma Babi

ads

Cerita Mistis Misteri Kisah Nyata Menyaksikan Siluman Tikus Bererong Membuang Hasil Curian

Seperti yang kita tahu untuk mencalonkan diri dalam Pemilu tentu membutuhkan dana yang lumyan besar,kalo terpilih bisa untung tapi kalo gagal bisa-bisa malah buntung,kali ini misteri nyata tengah malam akan berbagi kisah dibalik pemilu.berikut kisahnya.
Masa pencoblosan pemilu memang telah berakhir, namun ketegangan, deprési dan stress para caleg hingga kini masih melekat. Caleg yang diuntungkan dan menang dalam pemilihan boleh bersyukur. Namun bagi yang gagal harus menerima kenyataan pahit. Mereka bukan hanya gagal dalam perebutan kursi wakil rakyat, namun juga bangkrut akibat dana kampanye yang menguap tanpa perhitungan. Bahkan sekelompok orang berspekulasi nyeleneh, katanya dana caleg ludes bukan hanya untuk biaya operasional. Mereka mengaku ludes oleh kehadiran sosok siluman pencuri harta. Bagaimana bisa? Berikut penuturan seorang saksi kepada penulis beberapa tahun lalu.
Jum’at Pon, 04 April 2014 silam, lingkungan Menguri, Badung, sebenarnya baru saja memasuki suasana kondusif, setelah seharian disibukan dengan berbagai acara gelaran kampanye pemilu. Bukan hanya keluarga caleg masing-masing partai saja yang merasakan itu namun sebagian warganya pun sudah terlelap karena kelelahan setelah seharian ikut pawai di lapangan terbuka demi mendukung caleg yang mereka jagokan.

Akan tetapi ketenangan suasana, .mendadak terhapus oleh keriuhan suara orang-orang yang berlarian di jalan kampung. Mereka yang tak lain adalah warga setempat, ternyata sedang memburu hewan yang diyakini sebagai makhluk jadi-jadian. Alasan kuat yang mendasari keyakinan itu, yakni adanya beberapa kejanggalan terkait dengan kemunculan binatang itu sendiri.

Cerita Misteri Kisah Mistis Nyata Pesugihan Tikus Ngepet

“Saya yakin binatang itu bukan tikus biasa. Selain bentuknya yang Iebih besar lima kali lipat dari tikus biasa, juga memiliki warna kulit yang putih transparan hingga hampir nampak organ-organ dalam tubuhnya. Selain itu juga memiliki helal bulu-bulu besar, berduri dan tajam,” tutur I Wayan Sukada (54), salah seorang yang ikut mengejar saat kejadian pada malam itu.

Hal lain yang tak kalah janggalnya, binatang itu ternyata kali pertama dipergoki muncul di rumah seorang caleg, yang pada siang harinya baru saja menggelar acara kampanye. Adalah Ketut Mahendra, warga setempat yang pertama kali melihat keberadaannya. Tikus tersebut terlihat mondar-mandir diteras rumah seorang caleg. Pengakuan pria yang bertugas sebagai hansip, malam itu sekitar pukul setengah dua belas. Ia sedang bertugas meronda di rumah majikannya yang jadi caleg salah satu partai (nama caleg minta dirahasiakan).


 Saat itu Ketut mendengar suara pintu rumah dibuka seseorang. Padahal seingat dia, majikannya itu sejak dari sore sudah tidur di lantai átas. Dan biasanya jika sudah masuk kamar, mereka meminta Ketut untuk tidak diganggu sekalipun itu tamu penting. Takut hal itu perbuatan maling, tanpa pikir panjang lagi Ketut langsung mengecek keadaan tersebut.

Dengan tergopoh-gopoh ia segera menuju rumah. Akan tetapi sungguh di luar dugaan. Begitu tiba di teras, pria benjambang ini tak melihat satupun orang atau majikan ada disekitar itu. Penasaran dengan yang dihadapi, Ketut mencoba meyakinkan dengan melongok ke ruang tengah. Alangkah terkejutnya ketika pandangannya menyapu ruangan tersebut. Tanpa sengaja ia menangkap sesuatu yang ganjil berada di sana. Meski tersorot cahaya lampu yang tak begitu terang, namun Ia masih mampu melihat jelas keberadaan sosok binatang pengerat di hadapannya ini.

Yang jadi perhatian Ketut bukanlah kehadirannya yang sudah tidak asing, akan tetapi bentuknyalah yang membuatnya terpana. Bahkan hingga sejauh itu perasaanya masih setengah sadar. Pasalnya, baru seumur hidup Ketut menyaksikan sosok seekor tikus yang besar dan berpolah lain dari tikus biasa.


 Wujudnya sangat besar, hampir menyaingi kucingdewasa, namun memiliki bulu-bulu besar yang berduri dan tajam. Awalnya ia mengira hewan itu adalah sejenis kucing atau musang. Kurang percaya dengan yang dilihatnya, Ketut pun segera memanggil Budi, seorang pembantu di rumah tersebut, yang malam itu diberi tugas sang caleg menemani Ketut jaga malam.
Selanjutnya kedua orang tersebut perlahan masuk rumah dan mengintip tingkah polah hewan yang biasa dilambangkan sebagai koruptor tersebut.

Cerita Mistis Kisah Nyata Misteri Pesugihan Tikus Ngepet

Tak beda jauh dengan pikiran Ketut, Budi malah awalnya menduga hewan itu adalah seekor landak. Namun setelah diperhatikan seksama, ternyata binatang yang sedang diintipnya itu adalah seekor tikus yang ukurannya sangat besar.

“Tadinya saya juga mengira binatang itu adalah seekor musang. Tapi setelah saya cermati ternyata lebih mirip seekor landak, namun memikili suara yang sangat keras,” kata Budi yang juga masih kurang percaya.
Apa yang mereka lihat malam itu, tak urungjadi perdebatan keduanya dalam memastikan jenis hewan tersebut. Kegaduhan akibat perdebatan itu akhirnya terdengar hingga majikannya terbangun dan menghampiri keduanya. Sang caleg yang muncul dari kamar atas itu baru mengetahui pemicu kegaduhan tersebut.


Ia pun tak kalah herannya ketika menyaksikan sosok hewan tersebut. Entah siapa yang mengomando, selanjutnya merekapun akhirnya menghalau hewan tersebut agar ke luar dan rumah. Namun meski semua pintu telah dibuka, tikus tersebut bukannya segera ke luar, tapi justru malah wara-wiri seperti kebingungan. Sampai akhirnya Ketut memberanikan diri untuk menangkapnya dengan caranya sendiri. Tentu saja hal itu mengagetkan sang tikus. Mungkin merasa takut ditangkap, tikus itupun akhirnya lobs dan sergapan dan berhasil keluar dengan selamat.

Namun bagi Ketut dan Budi hal itu tidak membuatnya patah semangat. Dengan gigih keduanya pun mengejar tikus tersebut hingga ke halaman rumah bahkan kemudian sampai di jalan kampung. Akibat keributan yang ditimbulkan kedua orang itu akhirnya mampu membangunkan warga lain yang merasa penasaran dan akhirnya ikut mengejar. Bergabungnya lebih banyak orang, membuat perburuan makin seru.

Namun upaya penangkapan dengan tangan kosong ternyata tak membuahkan hasil. Sebab, binatang itu cukup cerdik menghindari sergapan. Satu hal yang dipandang aneh, meski terdapat banyak selokan atau saluran air di sekitar rumahrumah warga, namun tak sekalipun tikus tersebut berusaha untuk bersembunyi. Hewan itu sepertinya enggan memasuki areal kotor dan berbau. Bahkan meski sempat terjebak masuk rumah  Wayan Sukada, hewan itu masih bisa melepaskan diri dari kepungan dengan berlari lagi ke luar dari rumah tersebut.

Akhir pengepungan baru terjadi di sebuah gang buntu. Lari binatang yang dianggap menjijikan itu nyaris menabrak seorang ibu hamil yang terbangun dan ikut ke luar rumah setelah mendengar keributan. Namun sang tikus berhasil berkelit, hingga masuk dan terjebak di dalam rumah si ibu hamil tersebut. Setelah tak bisa kemana-mana lagi karena semua pintu segera di tutup dan keadaan rumah dikepung, hewan itu akhirnya terpojok dan terlihat pasrah.

Akan tetapi sesaat kemudian terjadi Sebuah keanehan. Ketika beberapa orang sudah siap hendak menangkapnya, mendadak tikus itu berdiri. Kedua kaki depannya berpolah layaknya sepasang tangan mungil yang berusaha menutupi wajah. Dan saat diperhatikan, ternyata hewan tersebut kemudian menangis. Bukan hanya Ketut dan Budi yang lainnya juga mendengar jika tikus tersebut sedang sasambat (minta bantuan), entah pada Siapa. Yang jelas kelakuan hewan tersebut akhirnya mampu membuat orang yang sudah berkumpul jadi mengurungkan niatnya untuk tidak menganiaya.

Bahkan kejadian selanjutnya tak kabah mengagetkan mereka. Mendadak suasana tegang terpecahkan oleh masuknya hembusan angin yang cukup kencang dari arah luar. Gebombang angin dingin tersebut membawa serta gumpalan-gumpalan asap keputihan sehingga memenuhi ruangan. Suguhan aneh tak hanya sampai disitu. Mereka yang hadir kembali dibuat tercengang.


 Ketika sama-sama berdiam diri, dan membiarkan hewan tersebut seolah menumpahkan kesedihannya. Semua mata nampakjelas menyaksikan apa yang dilakukan hewan tersebut. Tiba-tiba terlihat tikus itu menggoyangkan tubuhnya. Selanjutnya, dari badan tikus itu, keluar beragam macam benda berharga seperti, emas, berlian dan puluhan lembar uang ratusan ribu dan lima puluhan ribuan.

Cukup lama mereka menyaksikan suguhan fenomena Iangka itu. Meski pemandangan tersebut sepenti dalam mimpi, namun semua yang hadir tetap khusyuk. Seolah tak ingin membuang atraksi langka. Namun akhirnya, hampir bersamaan dengan pudarnya gumpalan asap putih, tubuh tikus itupun akhirnya nampak mulai bereaksi bahkan kemudian pergi meninggalkan ruangan tersebut dengan tenang. Anehnya, semua orang yang menyaksikan penistiwa itu tak satupun yang berusaha untuk menahan atau mengejar apa lagi menangkapnya. Mereka seolah terkesima dengan apa yang baru saja mereka lihat.

Setelah tikus itu menghilang dari hadapan, barulah mereka tersadar, lebih-lebih setelah mendapati barang berharga yang ditinggalkan siluman tersebut masih berada di tempatnya. Setelah diteliti seksama, ternyata harta dan uang tersebut bukan tipuan semata tetapi benar-benar nyata. Meski masih diliputi penasaan was-was dan takut, akhirnya mereka sepakat untuk menyimpan harta tersebut pada salah seorang yang mereka tuakan. Serta kelak akan dikembalikan jika memang benar ada warga yang kehilangan harta mereka.

Khawatir kejadian tersebut terulang, malam itu banyak warga yang sengaja tak kembali tidur. Ada yang benjaga-jaga di sekitar rumah caleg ada pula yang melekan di rumah sesepuh kampung sambil main kantu atau main catur, demi menjaga harta titipan tersebut. Pasalnya, wanga mencurigai hewan tersebut sebagai makhluk pesugihan yang dipelihara seorang pemibik pesugihan Bererong. Dimana media yang digunakan biasanya menggunakan seekor uban atau pun tikus putih.

“Meski di Badung ini memiliki sebuah pantangan khususnya bagi para petani. Mereka sangat tabu menyebut kata ‘tikus’ jika sedang ada di sawah. Hal itu sangat dipercaya bagai mantra yang bisa memanggil tikus. Untuk itu jika sedang di sawah, para petani menyebutnya dengan sebutan ‘jero ketut’ (tuan kecil),” kata Wayan Sukada.

Dikatakan selanjutnya. “Hewan yang tak kalah tabunya dalam pandangan masyarakat Bali adalah Bererong. Bererong adalah siluman yang menggunakan media ular ataupun tikus putih. Fungsi Bererong ini juga sama dengan tuyul kabau di Jawa. Tugasnya juga mencuri barang berharga, terutama uang,” lanjut pria berusia 50 tahun itu dengan mimik wajah serius.

“Entah kebetulan atau memang Bererong ini sengaja dilepas tuannya tepat pada saat-saat kampanye digelar. Dan biasanya, pada malam-malam Seperti itu banyak para caleg pesta pora dengan uangnya. Ya istilah orang-orang tua dulu biasa menyebutnya dengan serangan pajar. He..he..he,” seronohnya setengah menyindir.

Keesokan paginya, hilangnya harta dan uang dana kampanye para cabon legislatif gempar dibicarakan. Mereka berasumsi, pelakunya jelas adalah makhluk gaib Bererong yang diperintah tuannya untuk mencuri.
Terlepas dikembalikan atau tidaknya uang hasil curian tersebut, beberapa malam berikutnya peristiwa yang terjadi di Sempidi kembali terulang.



 Kali ini dialami Bli Baehaq (48), pemilik sebuah depo sembako di kawasan LC Bukal, Bangbi. Dari keterangan lelaki yang sering kulakan di kota Solo, ketika menghitung uang hasil dagang, malam itu ia melihat seekor ular masuk ke tokonya. Merasa hewan tersebut berbahaya, ia pun segera mencari pemukul guna menghalaunya ke luar. Tetapi saat itu dia dibuat tercengang. Ketika tangannya sudah siap memukul, mendadak sosok ular yang tadi dilihatnya ternyata hanyalah seekor tikus. Merasa ticlak berbahaya, akhirnya la hanya membiarkannya saja.

“Tikus itu memiliki badan lima kali lebih besar dari tikus santung. Selain warnanya putih juga memiliki bulu-bulu besar. Ketika dihalau ia menampakkan gigi-giginya yang runcing,” sambung Bli Baehaq.
Bahkan pada saat uang tersebut hendak digunakan sebagai alat pembayar, ternyata telah berkurang hingga beberapa lembar. Peristiwa itu kemudian diceritakan pada Gek Murti, istrinya, yang memahami jika hal itu tidak lain ulah si pemilik pesugihan. Menurut lelaki yang mengaku memiliki tiga anak, tikus atau ular adalah sejenis binatang siluman yang dipelihara seorang pemilik Bererong.

“Di Bali terkenal dengan pesugihan yang menggunakan media ular atau tikus. Pesugihan model ini jauh beda dengan pesugihan yang memanfaatkan makhluk gaib Wong samar,” tandasnya Iebih serius.
Masih dari keterangan Bli, di pulau dewata, pesugihan model Bererong termasuk bagian dari ilmu Pangiwa (ilmu beraliran hitam) yang melakukan persekutuan dengan makhluk halus Wong samar.


 Diyakini Bli, jika Bererong berbentuk siluman hewan memiliki kekuatan magic yang cukup tinggi. Hingga mampu mengalahkan kekuatan yang dimiliki seorang linuwih. Salah satu Bererong yang cukup sulit dideteksi kedatangannya saat beroperasi adalah pesugihan tikus. Seseorang tidak menduga jika tikus yang terkesan sebagai hewan menjijikan tak lain adalah peliharaan pelaku pesugihan.

“Hebatnya lagi, pesugihan tikus ini mempunyai kemampuan yang cukup tinggi jika terdesak. ia akan melepas semua hasil curiannya, jika ketahuan atau jika akan tertangkap. Kalau sudah begitu Ia akan leluasa pergi meski tidak membawa apaapa,” imbuh lelaki berambut panjang itu saat bertemu penulis di pasar Gede Solo.
Sementara itu keterangan yang disampaikan I Ketut Subrata, selama ini Bererong seringkali dipamahi masyarakat awam sebagai sosok makhluk ganas. Padahal gambaran menyeramkan itu hanyalah komentar orang yang belum mengenal sosok hewan tersebut.

“Bererong memang merupakan makhluk tak kasat mata saat memindahkan uang. Tetapi, jika Si korban memiliki penangkal, maka Bererongtersebut akan nampak seperti hewan biasa,” paparnya.
Lebih jauh dikatakan spiritualis asal desa Truyon, kabupaten Bangli, bentuk siluman hewan jarang dimiliki orang tetapi memiliki derajat yang sangat unik. Pasalnya siluman hewan ini masuk ke dalam trah gamang yang merupakan makhluk halus, dimana cara mendapatkannya tidak begitu sulit. Mudah ditemui di lokasi keramat atau angker, khususnya pohon-pohon besar (Taru Agung) yang mempunyai kekuatan gaib.

Pelaku pesugihan akan melaksanakan suatu upacara khusus guna memanggil arwah lelembut tersebut untuk diajaknya bekerja sama. Pada saat itu terjadi kesepakatan persekutuan ghaib antara kedua belah pihak. Biasanya tata cara pelaksanaan dan apa yang harus dilakukan saat bertemu dengan lelembut tersebut sesuai dengan uraian dan pemangku (juru kunci) lokasi mencari Bererong.

Tidak lupa harus melengkapi bermacam persyaratan sesaji yang kira-kira mampu menarik lelembut Bererong. Biasanya sesaji ini selalu ada hubungannya dengan kegemaran sosok yang nantinya akan dijadikan Bererong. Sesaji tersebut umumnya selain rangkaian bunga yang wajib, juga harus ada kepiting kali, ayam kuning, lampu tempel dan buah jail-jail. Semua sarana tersebut hendaknya diletakan dibawah pohon taru agung yang memiliki penunggu ghaib. Bila diperkenankan semuanya, maka di rumah harus pula disediakan sebuah kamar yang tak boleh seorangpun masuk. Yang juga dilengkapi dengan beragam sarana kegemaran siluman tersebut.

Selain itu pada hari tertentu seperti hari Tilem atau bulan mati yang jatuh tiap bulan, untuk memudahkan agar komunikasi antara si pelaku pesugihan dengan sosok Bererong Iebih dekat seperti Iayaknya anak sendiri. Dalam hal ini harus disediakan darah segar ayam hitam (cemani) lengkap dengan sesaji yang digelar di depan rumah. Persyaratan itu harus dilakukan sesuai dengan persyaratan sebelum ritual dilakukan antara kedua pihak.

Meskipun pesugihan jenis ini sulit dideteksi orang awam, tak jarang oleh seorang yang berkapasitas linuwih, namun bukan berarti tanpa kelemahan. Banyak cara untuk menangkal kedatangannya. Di antaranya dengan cara menggunakan sebuah cermin cembung. Sebab siluman yang lihay mencuri itu sangat takut bila melihat bayangannya sendiri.

Penangkal lainnya dengan menggunakan ‘Pasikepan’ yang terbuat dan lempengan tembaga dirajah mantra-mantra pengusir. Bahkan yang lebih gampang lagi bisa dengan menggunakan taring babi yang harus dipasang di rumah. Bahkan bisa juga dengan menggunakan duri pandan sebanyak tiga biji yang disertai uang kepeng. Kemudian diikat saling menyilang dengan menggunakan benang Sri Datu (benangtiga warna), yaltu merah, hitam dan putih.

Agar berhasil dan memiliki kekuatan ghaib, alat penangkal hendaknya dibuat pada hari Kajeng kliwon Enyitan. Karena hari itu merupakan hari keramat yang dilingkupi kekuatan magis. Tentu saja dalam pelaksanaannya harus disertai dengan ritual dan mantra-mantra tertentu oleh seorang linuwih. Untuk selanjutnya penangkal itu diletakan ditempat penyimpanan uang.

Disamping itu, bagi para korban Bererong, hendaknya dapat menjaga tingkah lakunya paling tidak mampu mawas diri. Hal ini akan banyak membantu tertangkalnya penyerangan Bererong. Semua kesepakatan kerja sama biasanya akan meminta pengorbanan dari kedua belah pihak. Begitupun dengan Bererong berbentuk siluman tikus. Jika kesepakatan tersebut telah melewati batas tertentu sesuai dengan perjanjian, makhluk halus yang telah menjalankan tugasnya akan memmnta tumbal nyawa.

Bila berlanjut terus menerus, maka setiap tahun satu nyawa harus disetorkan untuk jadi budak di kerajaan ghaib Bererong. Sadisnya permintaan wajib itu pertamakali yang harus ditumbalkan adalah anaknya sendiri. Bila dihentikan maka yang terjadi perubahan sangat mendadak dalam kehidupan rumah tangganya. Harta bendanya ludes, penyesalan dan rasa berdosa menghantui seumur hidup. Bahkan tak jarang yang berbuat nekat bunuh diri. Bila tidak hidupnya pun tak lebih dan seorang gembel, tanpa memiliki kegairahan hidup karena aura dan jiwanya sudah hilang.
Untuk itu saran bijak dengan tegas disampaikan sang spiritualis bila terjun ke dunia hitam, haruslah dipikir dua kali. Jangan sampal menyesal dikemudian hari. Sebab sudah sewajarnyalah, bila sesuatu yang diminta tentu saja ada imbalannya yang harus diberikan pula. Apa lagi jika menyangkut kekayaan yang diminta melalui dunia pesugihan, tentu saja meminta imbalan cukup mahal. Nyawa!
itulah cerita nyata kisah mistis misteri terbaru misteri pesugihan tikus
advertisement
Loading...
loading...