Misteri Goa Harimau Dengan Penemuan Artefak

ads

Penelitian Arkeolog di Goa Harimau Sumatera Selatan

Sekali lagi Indonesia sangat kaya warisan budaya sejarah,salah satunya adalah penemuan fosil manusia jaman purba di Goa Harimau.
Warga yang tinggal di sekitar kawasan situs Goa Harimau yang tengah diekskavasi dilanda ketakutan. Makhluk astral yang sudah ribuan tahun mendiami kawasan itu, kini bergentayangan karena rumahnya ‘dirusak’.. Mereka menyayangkan tim ekskavasi tidak melakukan,, ritual untuk meminta izin dan memindahkan roh leluhur sebelum melakukan kegiatan.
 “Jangankan tempat yang sudah ribuan tahun ditunggui makhluk halus, kuburan yang baru berumur 10 tahun saja, kalau mau dibongkar pasti dilakukan selamatan dulu.ini main bongkar saja,” kecam Fa, sebut saja begitu- tokoh pemuda setempat.
Menurut dia, akibat ekskavasi tanpa mengindahkan adat-istiadat setempat itu, kini banyak warga yang ketakutan karena mereka yakin makhluk halus yang berdiam di Goa Harimau marah dan akibatnya warga sekitar yang menjadi korban.

 

Penghuni Goa Harimau Gentayangan

“Belum lama ini ada warga yang mengalami kejadian aneh. Ketika dia tengah di ladang, siang bolong, tiba-tiba ada kakek-kakek datang meminta air. Namun setelah diberi air dan minum hingga satu teko, kakek itu hilang begitu saja. Karuan dia ketakutan dan sekarang tidak berani pergi ke ladang sendirian,” tutur Fa.
Selain pada sosok gaib, masyarakat sekitar juga takut jika nantinya banyak harimau yang menyerbu kampung mereka karena rumahnya porak-poranda. Sebab selama ini goa itu memang diyakini sebagai ‘rumah’ puluhan harimau Sumatera.
Sejak dilakukan ekskavasi pada goa yang terletak di Desa Padang Bindu Kecamatan Semidang Aji, Kabupaten Ogan Komering Ulu (OKU) Sumatera Selatan.

Penemuan Artefak Logam Di Goa Harimau

mulai tanggal 13 Mel 2014 lalu tersebut, terungkap adanya jejak kebudayaan paleometalik. Sejumlah artefak logam yang usianya mencapai 3.500 tahun ditemukan. Arkeolog prasejarah dan Pusat Arkeologi Nasional, yang terlibat riset Goa Harimau sejak tahun 2009, Harry mengungkapkan bahwa artefak logam di situs itu unik. “Artefak logam sangat kreatif dan mirip dengan logam Dongsom di Vietnam,” katanya.

Ada nya artefak logam yang mirip dengan logam Dongsom memicu dugaan bahwa manusia Goa Harimau sudah berinteraksi dengan bangsa lain. Mereka mampu menempuh perjalanan ke wilayah yang jauh dan berdagang ataupun barter.

“ini menarik karena manusia di Goa Harimau sebenarnya tinggal di pedalaman. Bagaimana caranya mereka yang tidak punya jalan sudah berinteraksi dengan manusia dari wilayah yang jauh?” tanya Harry.
Temuan-temuan di Goa Harimau menunjukkan bahwa manusia di situs itu sudah memiliki kebudayaan yang maju. Selain berinteraksi dengan bangsa lain, mereka juga sudah mengenal ritual penguburan maupun daur ulang alat.

Harry mengatakan, Goa Harimau diperkirakan telah dihuni manusia sejak 15.000 tahun lalu. Berdasarkan ekskavasi, setidaknya ada manusia dan tiga tingkat budaya yang memanfaatkan Goa Harimau.
sementara peneliti arkeologi asal Jepang Prof Hirofumi Matsumura dan Dr Yamagata Mariko mengaku kagum atas keunikan sejarah di Goa Harimau. “Saya sangat kagum atas Goa Harimau dan ingin melihat keunikan dan perbedaan dibandingkan tempat yang lain,” kata Hirofumi Matsumura saat melakukan penjajakan penelitian manusia prasejarah yang hidup ribuan tahun lalu di Goa Harimau.

Dikatakannya, hasil penelitian yang didapati di goa harimau sangat unik, yaitu ditemukan kerangka manusia prasejarah tertumpuk lebih dari satu tengkorak dalam satu lubang dengan posisi berserakan, terlentang dan tertelungkup.
“Dan usia juga beragam mulai dari kerangka bayi hingga kakek-kakek,” katanya seperti dikutip dan laman kompas.com.
Menurut dia, dan kerangka yang sudah ditemukan diperkirakan berkaitan dengan kehidupan di zaman purba dan masa modern berusia beragam sekitar 3.000 tahun dan ada yang 14.000 tahun silam. Sebab, penemuan kerangka manusia yang didapat ada tingkatan dari grup mongoloid, austrinisia dan juga grub autnonesia.
Sementara, Ketua Tim Arkeologi Nasional (Arkenas), Andhi Agus menambahkan dua peneliti Jepang tersebut melakukan penjajakan guna meneliti dan akan berkolaborasi dengan pihaknya dalam peneitian sejarah di Goa Harimau.

“Sebelum berkolaborasi kami akan lihat dulu pandangan mereka dan program atau tahapan,” katanya.
Andhi menambahkan, penelitian dilakukan kali ini melibatkan sebanyak 17 orang peneliti clan Arkenas, dan selanjutnya akan melanjutkan evakuasi di Goa Harimau untuk mencari kerangka manusia prasejarah yang masih terkubur.

“Selain Jepang juga ada beberapa peneliti dan Prancis, Australia dan lnggnis, yang sudah mengajukan permohonan untuk bergabung meneliti Goa Harimau,” ujar Andhi.

Goa Angker

Sejak lama Goa Harimau dikenal sebagai goa yang sangat angker. Banyak kisah seram selama ini berkembang di tengah masyarakat sekitar. Jangankan mendekatinya, mendengar nama Gua Harimau saja membuat bulu kuduk berdiri. Begitulah mitos yang tertanam di benak warga Desa Padang bindu. Dinamakan Gua Harimau karena pacla zaman dahulu, di gua yang memiliki pintu masuk sekitar 40 m-50 m tersebut terkenal tempat harimau menyimpan hasil buruannya. Gua dengan kemiringan 60 derajat hingga 80 derajat ini konon menjadi sarang harimau.

Hal itu diakui Ketua Adat Desa Padangbindu, Kecamatan Semidangaji, Kabupaten OKU, Abdul Kori (72). Menurut dia, dahulu kala leluhur Desa Padangbindu bernama Sang Aji Bagur melarang anak cucunya mendekati Gua Harimau. Gua yang berjarak sekitar 1,5 km atau satu jam berjalan kaki dan Desa Padangbindu itu terkenal angker.

Bila ada yang berani mendekati wilayah itu dipastikan tidak akan selamat. Niscaya ia dimakan harimau. Kisah itu, menurut Kori, memang ada benarnya sebab ada beberapa warga yang pernah menemukan sisa-sisa tulang hewan di dalam gua.

Seiring berjalannya waktu, manusia pun semakin pintar. Mitos larangan mendekati Gua Harimau mulai dilanggar. Warga mulai berani mendekati Gua Harimau yang ternyata menyimpan harta karun sebab di langit-langit gua banyak sarang burung walet. Sejak itulah warga tidak takut lagi mendekati Gua Harimau untuk mencari rezeki. “Sekarang gua itu tidak lagi angker,” urai Koni.

Bahkan, sudah banyak petani yang membuka kebun dan ladang di sekitan gua. Tiap hari Gua Harimau dilalui pejalan kaki menuju ladang. Maka keangkeran gua pun sirna.
Versi lain mengatakan, nama Gua Harimau diambil dari bentuk fisik gua karena pintu masuk gua mirip mulut harimau yang sedang menganga, dengan gigi-gigi dan taring yang tajam. Bila diperhatikan secara seksama bentuk fisik gua memang ada kemiripan dengan mulut harimau yang siap menyantap mangsanya.

Namun, hingga sejauh ini tokoh masyarakat setempat mengaku belum tahu persis asal mula gua yang memiliki langit-langit (atap gua) setinggi 20-30 meter itu sehingga dinamakan Gua Harimau. Ketua Adat Desa Padangbindu
mengakui, suasana di sekitan Gua Harimau dulu dan sekarang memang sudah jauh berbeda. Goa yang dulu terkenal angker dan sangat ditakuti wanga kini tidak lagi.

Terbukti kedatangan tim peneliti dan Pusat Penélitian Arkeologi Nasional berhari-hari melakukan penelitian di lokasi di dalam gua. Hasilnya sangat mengagetkan. Peneliti berhasil menemukan fosil empat kerangka manusia prasejarah yang diperkirakan berumur 3.000 tahun di dalam gua.

Penemuan Iainnya di dalam gua selain kerangka (lukisan di dalam gua dan kalung berbandul taring babi hutan) dan sejumlah penalatan rumah tangga yang terbuat dari batu. Temuan arkeolog di Desa Padang bindu ini menambah informasi lagi peradaban dan kebudayaan manusia purba.
Kepala Dinas Pariwisata OKU Aufa S Sarkomi juga mendukung ekskavasi Goa Harimau yang dilakukan oleh para peneliti dari berbagai negana.

“Kedatangan dua orang peneliti Jepang ini merupakan yang kedua kalinya di Gua Harimau,” katanya.
Ia mengemukakan, pihaknya akan terus berupaya meningkatkan potensi objek wisata di Kabupaten OKU agar semakin banyak wisatawan dari luar negeri berkunjung ke wilayah setempat.
“Banyaknya ilmuan dunia akan datang ke sini membuktikan bahwa daerah kita kaya akan potensi. Tentunya, kami terus berupaya untuk meningkatkan potensi wisata di OKU,” ujar Aufa.
Atas kenyataan itu, Fa mengingatkan agan pejabat setempat tidak gegabah.
Baca Juga;
“Meski mereka mungkin tidak percaya dengan hal gaib tetapi membongkan kuburan nenek moyang tanpa penghormatan kepada penghuninya, adalah sikap semena-mena. Itu bukan sifat budaya ketimuran yang kita anut di mana menghormati para sesepuh, meski sudah meninggal dunia, adalah kewajiban yang mutlak hanus kita lakukan,” tegas Fa.
Itulah cerita kisah mistis tentang goa harimau 
advertisement
Loading...
loading...