Menguak Cara Mengatasi Setan Sawan Pernikahan

ads

Media Tolak Bala Pesta Pernikahan dari Setan Sawan Manten

Setan sawan manten adalah makhluk gaib berwujud anak kecil, sosok ini senang berada di dalam upacara hajatan pernikahan. Selain memiliki kegemaran makan sesaji si dalam resepsi pernikahan, sosok tersebut seringkali mengikuti kemanapun upacara hajatan mantu digelar.Setan Sawan Manten Selain memiiki kegemaran berebut sesaji, setan sawan manten juga senang menggoda anak kecil yang masih berumur di bawah ilma tahun.

Dalam setiap pelaksanaan upacara pernikahan di Jawa, atau yang Iebih dikenal dengan nama upacara mantu, berbagai macam rangkaian sesaji diperlukan, agar dalam pelaksanaan upacara yang sarat dengan nilai kesakralan dan religi ini bisa berjalan dengan lancar. Tidak hanya sesaji yang harus komplit, namun penetapan hari, tanggal serta waktu pelaksanaan ijab qobul juga harus dihitung berdasarkan ilmu pawukon, ilmu perhitungan penanggalan Jawa atau fengshui ala Jawa.
Pertepatan waktu dalam penghitungan petung pada saat menentukan ijab temanten dan resepsi panggih (temu) akan membuat seluruh rangkaian upacara pernikahan bisa berjalan lancar. Tetapi hal ini akan menjadi sebuah bala pangapesan yang berujung pada kematian, apabila waktu yang ditetapkan untuk menggelar upacara ijab mantu dan resepsi panggih ternyata bertepatan dengan waktu sial. Waktu sial kebanyakan dihitung pada saat hari kematian para leluhur leluhurnya.Baca caramemilih hari baik untuk pernikahan berdasarkan weton jawa.

Selain akan mengalami nasib sial yang terus menerus sakit, rumah tangga berantakan atau bahkan berujung pada kematian, pasangan temanten juga bisa mengalami kesulitan mencari rejeki saat mengarungi bahtera rumah tangga. Tetapi hal ini akan berbeda apabila waktu, tanggal dan hari yang ditetapkan memiliki unsur keberuntungan. Rumah tangga yang dijalani pasangan pengantin akan lancar, serta dikarunia rejeki yang berlimpah ruah.

Kesialan dalam menentukan pawukon akan dialami oleh keluarga pasangan pengantin, tidak hanya menimpa diri sendiri beserta seluruh keluarganya, kesialan ini juga bisa menimpa seluruh keluarga, yang masih memiliki garis keturunan sanak famili dan pasangan pengantin yang tinggal serumah dengan keluarga pengantin. Kekeliruan dalam menetapkan ilmu pawukon akan menyebabkan setan sawan temanten semakin menyenangi keadaan ini.

Setan sawan manten adalah makhluk gaib berwujud anak kecil, sosok ini senang berada di dalam upacara hajatan pernikahan. Selain memiliki kegemaran makan sesaji si dalam resepsi pernikahan, sosok tersebut seringkali mengikuti kemanapun upacara hajatan mantu digelar.

Tetapi dari sekian banyak kegemaranya, kebiasaan menggoda anak kecil yang masih berumur di bawah lima tahun merupakan salah satu kesenangan yang digemari. Kegemaran ini akan menyebabkan anak-anak atau bayi yang ikut bersama orang tua, saat menghadiri resepsi mantu menjadi rewel. Dan menangis tanpa sebab, hingga berlanjut sakit panas. Oleh sebab itu, di dalam kepercayaan masyarakat jawa pantang bagi anak kecil diajak menghadiri upacara resepsi pernikahan, agar tidak terkena sawan manten.

Sawan manten tidak hanya menyerang anak kecil saja, sawan ini juga bisa menempel kepada para tamu, dan orang orang yang berada di sekeliling kedua temanten, tak terkecuali warga tetangga. Terdapat dua makhluk halus yang senang berada di dalam Iingkungan hajatan, saat upacara resepsi pernikahan dihelat. Selain sawan manten yang sering menggoda anak kecil, sowan manten lain yang juga berwujud anak kecil tetapi lebih jahat, seringkali juga terlihat pada saat pagelaran mantu di lakukan. Mahkluk ini bermata merah menyala dengan kulit tubuh bersisik seperti seekor katak.

Seseorang yang terkena sawan ini, sekujur tubuhnya akan terasa sangat panas, di beberapa bagian kulit yang tensentuh oleh sawan akan melepuh. Sedangkan kulit yang melepuh tersebut, dipercaya menjadi tempat menempelnya makhluk ghaib dalam tubuh seseorang.

Sawan-sawan ini tak hanya menyerang para tamu, keluarga dan kerabat lain yang dekat dengan pasangan temanten, warga tetangga yang dekat dengan keluarga temanten juga rentan terkena setan sawan manten. Oleh sebab itu setiap kali seseorang hendak menggelar upacara hajatan mantu, beberapa tempat yang dianggap keramat di sekitar kampung biasanya akan diberi sesaji terlebih dahulu, agan setan sawan manten tak mendatangi resepsi hajatan.


 Kepercayaan ini telah mengakar sebagai sebuah adat tradisi di dalam masyarakat Jawa, selain untuk menjaga keseimbangan alam, sesaji sesaji tersebut juga berfungsi sebagai ungkapan rasa puji syukur kepada Gusti Sang Maha Pencipta, beserta para leluhur agar berkenan menjaga keselamatan para penduduk setempat.

Mitos Mistis Makna Sesaji Yang disajikan di acara perkawinan

Lantas bagaimanakah cara menangkal setan awan manten? Salah satunya dengan mengambil sedikit bedak pengantin putri, kemudian dioles oleskan sedikit ketubuh anak kecil, agar anak tersebut terhindar dari gangguan setan sawan manten. Selain bedak, janur kuning yang terpasang di atas pintu masuk resepsi pernikahan, juga bisa dipakai untuk menangkal seseorang yang terkena setan sawan manten.

Dengan cara dikunyah kemudian dioles-oleskan ke tubuh seseorang yang terkena setan sawan manten, mahkluk halus tersebut akan bisa dihilangkan. Bahkan cara ini juga bisa dipakai untuk menangkal mahkluk ghaib lain, yang berada di sekitar upacara hajatan mantu yang ingin menggoda seseorang. Oleh karena itu janur kuning tak pernah ketinggalan selalu dipasang sebagai tirai penolak bala setiap kali seseorang menggelar upacara mantu.

Selain sebagai sesaji bentuk wujud rasa syukur, seluruh rangkaian sesaji juga dipergunakan juga sebagai simbol tolak bala, sekaligus pelebur kejahatan. Karena seluruh ubo rampe upacara penganten di wujudkan sebagai sebuah simbol keselamatan dan pengayoman. Simbol simbol keselamatan tersebut di antaranya adalah janur, daun ringin, daun kluwih, daun bendo, sesaji tumpeng urapan dan masih banyak sesaji lainya yang disimbolkan sebagai bentuk keselamatan bagi manusia.

Janur disimbolkan sebagai bentuk sebuah pengertian cahaya hidup manusia, Ja —Jo adalah pengertian, sedangkan Nur adalah cahaya hidup. sehingga apabila diartikan simbol janur kuning adalah sebuah pengertian cahaya kehidupan yang berpijak kepada Gusti Hyang Maha Agung. Sesorang yang melewati janur kuning yang terpasang di atas pintu masuk resepsi upacara hajatan mantu, dipercaya akan mendapatkan berkah serta rahmatNya, Nur cahaya kehidupan dari Gusti Hyang Maha Agung.

Daun ringin yang di pergunakan untuk sesaji tuwuhan, terpasang di samping kiri kanan pintu masuk ruang resepsi di simbolkan sebagai bentuk pengayoman. Pengayoman tak hanya sebatas kepada seluruh keluarga dan kerabat yang sedang punya hajat, namun seluruh tamu undangan yang melewati tuwuhan akan mendapatkan suatu pengayoman dari Gusti Kang Maha Kuasa.

Selain daun pohon beringin, daun kluwih dan daun bendo di simbolkan sebagai bentuk kekuatan atau keluwihan bagi seluruh keluarga. Sedangkan daun bendo dilambangkan agar keluarga yang menggelar upacara resepsi pernikahan dilebihkan rejekinya dalam menjalani bahtera rumah tangga.
Sesaji tuwuhan yang dipasang di pinggir pintu selain mampu menetralkan orang yang memiliki niat jahat secara halus, juga sebagai satu simbol gapura kehidupan. Oleh sebab itu bagi masyarakat Jawa yang masih lekat dengan adat tradisi dan budaya, sesaji tuwuhan mutlak dilakukan setiap kali menggelar upacara hajatan mantu.

Upacara tradisi mantu memiliki nilai kesakralan yang sangat tinggi, serta sarat dengan keluhuran adat tradisi spiritual. Di dalam kepercayaan masyarakat Jawa, kekeliruan dalam menentukan tanggal, hari dan waktu pelaksanaan resepsi pernikahan akan berakibat fatal terhadap sekuruh keluarga calon temanten.
Hal ini seringkali terjadi terhadap masyarakat Jawa yang tak lagi melestarikan tradisi budaya tersebut. Sejak ribuan tahun yang silam penghitungan ilmu pawukon telah dikenal dalam budaya Jawa, pawukon ini sebagai sebuah angger-angger untuk menentukan hari baik bagi masyarakat jawa dalam menjalani kehidupan yang kesemuanya berpijak pada nilai luhur keseimbangan isi alam semesta.

llmu penghitungan pawukon di pakai agar masyarakat jawa tidak keliru menentukan langkah hidup, karena di dalam kepercayaan tradisi adat Jawa, ilmu ini sudah ada semenjak ribuan tahun yang silam. Kekeliruan dalam menentukan waktu akan berakibat di makanya nasib seseorang oleh Batara Kala. Keykinan ini telah mengakar dan diyakini oleh nenek moyang masyarakat Jawa sejak dari dulu.

Mitos Mistis Misteri Bahaya memilih hari yang salah dalam pesta pernikahan

Kekeliruan dalam menentukan waktu pelaksanaan ijab temanten yang berujung pada kematian pernah terjadi, ketika salah seorang warga Serengan menggelar perhelatan nggunduh mantu di sebuah gedung pertemuan di kota Solo.

Sebagai pihak calon pengantin pria, Sigit tak pernah menyangka bahwa tanggal dari hari pernikahan yang di tentukan oleh calon istrinya ternyata bertepatan dengan hari kematian (geblak : Jawa) bapaknya. Meski hal ini dianggap tahkayul oleh keluarganya, namun nasib sial yang berujung pada kematian pamannya membuat Sigit dan keluarganya akhirnya sadar akan nilai luhur sebuah tradisi budaya bangsa.

Malam menjelang upacara resepsi nggunduh mantu, seluruh keluarga merasa bersuka cita. Karena sepekan sebelumnya, upacara ijab qobul telah berjalan dengan lancar di rumah mempelai perempuan, hingga akhirnya upacara perhelatan nggunduh mantu di gelar juga oleh keluarga Sigit, sebagai pihak dari pengantin pria. Malam hari tepat pelaksanaan upacara nggunduh mantu baru berjalan sekitar setengah jam, salah seorang pamannya merasa kurang enak badan.

Sambil berjalan sempoyongan dengan diantar salah seorang kerabat, sang paman tiba di rumah dalam keadaan tak sadarkan diri. Tetapi hal tersebut tak berlangsung lama, jelang beberapa menit semenjak sang paman dirabahkan di atas dipan tempat tidur, tubuhnya sudah terbujur kaku.
Nasib sial yang dialami oleh keluarga Sigit tidak hanya berhenti sampai di sini saja, jeda sehari setelah sang paman meninggal dunia, adik Ielakinya yang bernama lrwan merasa diikuti terus oleh arwah sang paman kemanapun dirinya pergi.

Arwah yang menghantui adiknya tersebut berlangsung hingga berhari- hari. Rasa ketakutan yang dirasakan Irwan hingga membuat dirinya sulit memejamkan mata, hingga semakin lama irwan stress dengan kondisi tersebut..
itulah mitos mistis misteri tentang sawan acara hajatan serta cara menanganinya
Sampai akhirnya, salah seorang yang memiliki ilmu keluwihan mencoba menghilangkan arwah sang paman yang membayanigi dirinya. Irwan disembuhkan dengan doa, selang seminggu setelah irwan terlepas dari bayangan arwah sang paman, salah seorang keluarganya tiba-tiba mengalami sakit tanpa sebab yang pasti, hingga harus menjalani opname di rumah sakit.
Nasib sial yang dialami keluarga Sigit terus berlangsung silih berganti menimpa keluarganya, sampai akhirnya Sigit harus menyadari bahwa penetapan ilmu pawukon yang keliru ketika dirinya melangsungkan pernikahan, telah membuat seluruh keluarganya mengalami nasib sial. ®
advertisement