Mantra Ilmu Gendam Kesuksesan Kisah Nyata Misteri

ads

Mitos Primbon Mantra Ilmu Pembantu Kesuksesan Pekerjaan

Di jaman yang sudah modern ini masih saja ada orang yang menggunakan ilmu gendam untuk melancarkan segala usaha mengejar kesuksesan dunia,Misteri Nyata Tengah Malam Kali ini akan berbagi kisah tentan Gendam,


Ia tak pernah menyangka sebagi  seorang sarjana informatika, banyak orang beranggapan bahwa dirinya bakal mudah mendapatkan pekerjaan. Tetapi zaman telah jauh berbeda, jika tak ada relasi di dalam, ratusan ijazah yang dikirimkan seolah raib ditelan bumi.
ltulah yang membuat, kenapa Toro, yang semula bertahan harus bekerja sesuai dengan ilmunya harus menyerah pada kenyataan. Ya... untuk menutupi biaya hidupnya, ia terpaksa mengambil tawaran bidang pemasaran dan salah satu perusahaan besar yang bergerak dalam garmen.


Setelah mengikuti training tiga hari Iamanya, Toro pun mulai ditempatkan sebagai asisten manajer pemasaran. Asti, sang manajer adalah sosok yang gila kerja sekaligus sering mematok target dengan seenaknya sendiri. Maklum, ia adalah kemenakan dari istri salah seorang komisaris.


Begitu mulai bekerja, Asti dengan tenang menyodorkan berbagai dokumen tentang outlet yang harus dibuka, ditagih, rencana pemasukan dan pengeluaran bulanan serta piutang yang harus segera diselesaikan dalam waktu dekat Toro hanya mengangguk sambil mulai membuka dokumen itu lembar demi lembar. Ketika Asti berjalan ke luar ruangan entah kemana, beberapa teman baru pun menghampiri.

“Anda adalah orang  yang ke sembilan yang dalam bulan ini. Delapan orang yang kemarin, besoknya tidak datang lagi,” kata lelaki yang mengaku bernama Erwin.
“Ini ita dan satunya Dewi,” kata Erwin memperkenalkan keduanya.
“Saya Toro. Mudah-mudahan besok saya datang untuk minta waktu, berapa lama target tersebut harus dicapai,” kata Toro dengan penuh keyakinan.
“Wow ... Asti pasti bakal dapat kejutan,” ujar Ita dan Dewi hampir bersamaan.
“Tidak juga,” balas Toro, “yang perlu, kita harus kompak, saling bantu dan bukan saling menjatuhkan,” tambahnya.
“Oke ... oke,” jawab ketiganya sambil berjalan menuju ke mejanya masing-masing.


Esoknya, dengan tenangToro mendatangi ruangan Asti dan mengetuk pintunya. Setelah masuk, Toro menanyakan berapa lama target tersebut dicapai, dan bonus apa yang didapat bila tercapai, serta ia meminta izin dua tiga hari untuk menyelesaikan satu dan lain hal di kantornya yang sama.


“Oke, bonusnya sekitar 5 persen. Ketiga teman yang ada dalam ruangan itu juga harus dapat. Izin dapat diberikan, silakan masuk ada Senin mendatang,” jawab Asti sambil tersenyum sinis. Ia yakin, lelaki yang ada di depannya hanya omong besar saja.


Rasanya, sekali ini Asti harus merasakan sesuau yang berbeda. Usai menghadap, la meminta kepada ketiga sahabat barunya untuk meng-copy seluruh dokumen tersebut. Setelah menerima copy yang menurutnya untuk dipelajari di rumah se usai  mengurus izin resign-nya di tempat yang lama, Toro pun segera memasukkan dokumen tersebut ke dalam tas-nya. Dan setelah sejenak berbasa-basi, Toro pun mohon diri.


“Sampai Senin depan,” katanya dengan penuh semangat.
“Oke.. ditunggu,” jawab Erwin dan Dewi.
“Salam buat ita,” kata Toro sambil berjalan ke luar.
“Baik ... nanti disampaikan,” jawab keduanya dengan tensenyum melihat ulah teman barunya yang sedikit nyentrik itu.


Ternyata, Toro tidak kembali ke rumah kos-nya. Ia malahan memacu kendaraannya ke luar kota. Ya ... Toro ingin menjumpai kakeknya, Mbah Harjo, sosok yang dituakan oleh seluruh penduduk di desanya yang ada di sekitar tempat wisata Batu Raden. Setelah sejenak beritirahat di sekitar Bandung, Toro kembali memacu kendaraannya menuju ke kampung halamannya. Singkat kata, sekitar pukul delapan,Ia sudah tiba di rumahnya. Setelah membersihkan tubuh dan sejenak beristirahat, Ia pun berkata; “Bapak, Toro mau ke rumah Mah Harjo, ada yang penting.”
“Ya ... jangan malam-malarn pulangnya,” jawab sang ayah.


Toro mengangguk dan berjalan sambil menghisap rokoknya. Kakinya melangkah di antara rimbunnya pepohonan yang menaungi jalan desanya. Tak berapa lama kemudian, kaki memasuki pekarangan yang di kiri-kanannya terdapat kolam ikan yang lumayan luas. Belum lagi ia uluk salam, dari dalam, terdengar suara berat yang menyapanya dengan gaya Banyumas yang kental; “Alaikumsalam ... ayo cepat masuk.”
“Assalamualaikum,” sahut Toro tersipu malu. Ia tak rnenyangka, sang kakek,
ternyata telah menunggu kedatangannya sedari tadi. Buktinya, ada segelas kopi dan goreng singkong yang mulai hangat. Toro makin kagum dengan kewaskitaan simbahnya.

Primbon Mitos Mantra Kisah Misteri Cerita Mistis Pengalaman menggunakan ilmu gaib untuk pekerjaan


Setelah sejenak berbasa-basi, akhirnya, Toro pun mengutarakan kesulitannya. “Jujur Mbah, saya takut kalau tidak berhasil. Bantu saya Mbah...,” rengekToro.
“Berhasil atau tidak tergantung usaha. Jika dilakukan dengan tulus, ikhlas dan serius, lnsya Allah akan diijabah dan artinya usaha tersebut berhasil,” papar Mbah Harjo dengan senyum menggoda.
“Ya ... tolong saya mbah,” kata Toro menghiba.

Mbah Harjo pun meminta Toro untuk mendekatkan telinganya. Perlahan, Ia pun membisikkan kata;
“BismiIIaIiirrohmannirrohim, kuwungkuwung pangadegku, tejo mantera paningalku, gelap sewu swaraku, teko welas teko asih wong... marang aku, saking Kersaning Allah.”
Toro yang cerdas dalam waktu singkat dapat menghafal mantra tersebut. Dan kemudian terdengar suaranya; “Sehabis kata “wong” diisi dengan kata apa Mbah?”

“Bebas, bisa wong sekantor, wong seruangan, wong sejagat dan seterusnya,” sahut Mbah Harjo dengan mantap sambil tak lupa menyuruh Toro untuk meminum kopi dan mencicipi goreng singkong yang mulai dingin itu. Setelah bertanya banyak hal, maka, Toro pun mohon diri untuk pulang dan berjanji sebelum pulang bakal singgah ke rumah Mbah Harjo.


Cerita Mistis Misteri Kisah Nyata Mitos Primbon Penggunaan Mantra Gendam Untuk Urusan Kerja


Dan benar, Sabtu pagi, Toro sudah kembali ke rumah Mbah Harjo. Sang kakek yang melihat kedatangan cucunya itu menyambutnya dengan penuh semangat. Setelah menerima banyak nasihat, Toro pun mohon diri. Dan sebelum berangkat, terdengar suara sang kakek; “Jangan-jangan, nanti, pimpinanmu ada hati.”
“Ah ... tidak mungkin Mbah. Saya orang dusun, melarat dan hanya anak petani,” kata Toro sambil geleng-geleng kepala.


Dan benar, Senin, Toro masuk ke kantor dengan penuh percaya diri. Beberapa piutang yang selama ini menunggak, berhasil diselesaikan dengan baik sebelum makan siang. Boleh dikata, walau hanya mengandalkan telepon, tetapi, rencana pemasukan bulan itu sudah terjadwal dan dikerjakan dengan rapi oleh Ita dan Dewi. Sementara, Erwin diminta untuk menyusun daftar kunjungan untuk Toro melakukan presentasi.


“Ah ... kelihatannya dua bulan ini kita bakal dapat bonus besar. Semua yang tertunda berhasil diselesaikan Toro dalam dua minggu,” kata ita dengan gembira.
Erwin dan Dewi pun Iangsung bertepuk tangan sambil bengumarn; “Bonus ... oh oh bonus.”


Tak hanya mereka bertiga, Asti, bahkan direktur produksi harus menyusun jadwal ulang agar apa yang dipesan oleh distributor yang bersedia bekerjasama setelah Toro melakukan presentasi disana tidak kecewa, karena, pesanannya terlambat datang atau mutu yang tidak sesuai.
Keberhasilan Toro yang dalam waktu dua bulan berhasil
rnendongkrak pendapatan pabrik jadi perbincangan semua karyawan. Mereka tak pernah menyangka, sosok yang nyentrik itu berhasil meyakinkan para pelanggan lama sekaligus menggaet pelanggan baru. Asti yang selama ini terkenal pada setiap lelaki pun mulai berubah. ia menaruh perhatian khusus pada Toro. “Ah ... ini pasti gara-gara simbah,” gumam Toro.
Yang jelas, dengan mantranya, sudah barang tentu atas izin Allah, semua bisa menuruti segala kata-katanya.
Itulah mitos mistis primbon pemanfaatan mantra gaib gendam untuk tujuan pekerjaan
advertisement
Loading...
loading...