Kisah Nyata Adzab Seorang Pengkhianat Merebut Suami Orang

ads

Mitos Karma Dosa Adzab Akibat Merebut Suami Orang

Akibat atau dosa seorang pengkhianat adalah merupakan dosa besar karena merugikan orang lain,Kisah nyata misteri tengah malam kali ini akan berbagi kisah seorang pengkhianat,kita simak, 
Sebut saja namaku Wuri. Aku dilahirkan 25 tahun yang silam di sebuah desa yang cukup terpencil, jauh dari keramaian kota, tepatnya di daeràh Tuban, jawa Timur. Suka dan dukaku banyak aku jalani di rumah tua warisan eyangku dulu, karena bapakku anak satu-satunya pewaris semua harta eyang yang telah berpulang ke Rahmatullah beberapa tahun silam.
 
Sedang aku anak pertama dan tiga bersaudara yang masih berstatus single, dan belum mendapat kesempatan kerja, Rio adik bungsuku masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, sedang Tantri baru kelas satu SMK di kota kami tinggal.

Orang tuaku hanyalah seorang;petani biasa, sehingga kami harus sering untuk membantunya mengurus sawah, terutama saat musim panen tiba. Walàupun hidup kami sederhana, tapi rasanya cukup bahagia. Tak jarang kebahagiaan itu muncul saat berada di ladang atau sawah, terutama menjelang sore hari. Aku dan kedua adikku berlarian kecil di pematang sawah, diantara rindangnya belukar padi  yang sedang menguning sambil bercanda dan tertawa riang.
“Tuhan, semoga kebahagiaan ini jangan cepat berlalu,” bisikku dalarn hati.

Tapi prahara datang tak diundang, dan pergi pun begitu saja. Meninggalkan puing-puing kehancuran yang tak pernah terduga sebelumnya. Tepatnya Oktober 2008, aku mulai terjajah oleh keganasan alam. Hujan yang begitu deras mengguyur hampir seluruh kota Jawa Tengah dan Jawa Timur, meluluh-lantakkan segalanya.
Bukan hanya rumah dan harta benda yang hancur ludes, tapi kebahagiaan kamipun direnggutnya.


 Sungai Bengawan Solo meluap, menghancurkan sebagian daerahku. Rumah warisan eyangku itu ditelannya hingga tak tersisa. Hati kedua orang tuaku rasanya remuk seketika, seremuk’ harapan dan masa depanku beserta kedua adikku. Kami tak lagi memiliki tempat tinggal, hanya tenda-tenda darurat yang bisa kami tempati dengan beberapa warga lain yang ikut terkena musibah tersebut.

Keadaan itu berjalan hingga satu bulan lamanya. Kami harus bangkit dari kenyataan ini, tapi jalan apa yang harus ditempuhnya? Akhirnya tidak ada pilihan lain, untuk membangun rumah itu kembali walau mungkin cukup sederhana, kami harus meminjam ke bank swasta di daerahku. Beberapa hari kemudian, uang pinjaman kami dapat. Tapi selepas dari itu, kembali kami disudutkan oleh pengembaliannya yang dilakukan secara angsuran. Akhirnya demi keluarga serta cita-cita dan kebahagiaan kedua adikku, aku putuskan untuk bekerja dengan teman yang memiliki toko pakaian di sebuah pasar ternama di Kota Solo.

Walau aku hanya menjadi pelayan toko dengan upah minim, tapi rasanya bisa sedikit membantu keluargaku yang sedang mengalami keterpurukan ekonomi. Keluh dan peluh tak pernah aku rasakan, apalagi aku ceritakan kepada kedua orang tuaku. Aku sadar, dalam keseharianku masih selalu dalam kekurangan, sehingga harus selalu hutang sana sini untuk menutupinya.


 Walau demikian aku harus selalu mengirim uang ke kampung untuk menutup angsuran bank serta membantu kebutuhan sekolah kedua adikku. Dengan kondisi yang selalu kekurangan, aku memiliki pikiran kotor.
Perbuatan yang tak pantas aku kerjakan terhadap teman yang telah membantuku. irawan, suami temanku itu yang juga merupakan pemilik toko tempatku bekerja mengetahui segala keadaanku. Diam-diam dia rupanya memanfaatkan kekuranganku untuk menguasai tubuhku. Anehnya, akupun menerima segala pemberian yang dia berikan, termasuk cinta serta kemesraannya, walau hanya sesaat. Yah, aku sadar diriku hanya sebagai selingan atau pengisi waktu senggang jika jenuh dengan Miranda, istrinya!

Cerita Mistis Misteri Kisah Nyata Akibat Mengkhianati teman


Aku benar-benar menjadi seorang pengkhianat bagi Miranda, teman yang telah berusaha membantuku dengan berbagai upaya. Dan satu hal yang tak pernah bisa aku mengerti, dengan terbuka akupun menerima permainan Irawan. Bahkan rasanya aku semakin jauh terbuai oleh kemesraan yang dia berikan, terutama jika Miranda tak sedang berada di toko. Mungkin aku wanita yang terlalu berani untuk menerima tantangan itu. Tetapi aku mengartikannya sebagai takdir yang harus dijalaninya, walau pada akhirnya tak tahu apa yang äkan terjadi pada kemudian hari.

Semakin hari hatiku rasanya semakin merasa tidak enak terhadap Miranda. Seiring aku salah tingkah jika berada di dekatnya. Akhirnya aku memutuskan untuk berhenti bekerja dari tokonya. Hal itupun tak lepas dari dukungan Irawan, bahkan dialah yang memiliki ide itu pertama kalinya. Dia juga berjanji akan mencukupi semua kebutuhan hidupku, termasuk sewa rumah serta menanggung keluargaku di kampung.


Kenyamanan semakin aku dapatkan dengan hadirnya Irawan setiap tiga hari sekali. Tetapi tak bisa kupungkiri, keraguan itu kembali muncul jika sewaktu-waktu dia mencampakanku. Padahal, aku tak memiliki ikatan apa-apa dengannya. Aku harus mencari cara agar laki-laki itu terus bensimpuh pada kehangatanku.

Akhirnya aku mendatangi seorang paranormal yang tinggal di daerah Pacitan. Dia menyarankan agar aku memakai susuk samber lilin sebagai daya pemikat serta pelekat hati laki-laki yang menjadi sasaranku. Selain itu, aku juga dibekali sebuah boneka dari kayu yang terbungkus kain mori.


 Menurut orang tua itu, kapan saja aku membutuhkan kehadiran seseorang tinggal meniup kepala boneka tersebut tiga kali sembari menyebut namanya. Jika hal itu aku lakukan, tak ada seorangpun yang bisa menolaknya. Alhasil, semua ucapan Eyang Asnawi, paranormal itu, memang terbukti.
Irawan semakin lengket, seolah seluruh jiwanya bisa aku kuasai. Bahkan dia sering berucap kepadaku. “Jika kau menginginkan. sesuatu, katakan saja kepadaku Wuri!” Rasanya hati ini semakin ayem.

Sejak itu sedikit demi sedikit aku mulai berani meminta sesuatu yang cukup berarti untuk menopang hidupku. Aku minta dibuatkan sebuah toko, dan tak lama kemudian aku dibelikannya pula mobil. Pendek kata, apa yang aku minta pasti akan dia penuhi.
“Kamu rela Mas, memberikan semua ini untukku?” tanyaku saat itu.
Irawan tersenyum tipis. “Jangankan harta.
hatipun telah aku berikan kepadamu,”candanya.

Kemesraan demi kemesraan dalam permainan terlarang terus berlangsung, hingga tak terasa sudah tiga tahun lamanya. Apa yang aku miliki dari hasil permainan gelap bersama Irawan, rasanya cukup memuaskan diriku. Bahkan kini tak hanya mempunyai sebuah toko pakaian, tapi toko material bangunan pun telah kumiliki. Dan dari hasil tabunganku, rencana bulan depan aku akan membangun sebuah rumah yang kurasa cukup mewah. Semua atas pemberian Irawan serta usaha kerasku.

Kini Irawan lebih sering tinggal di rumahku, dari pada di rumahnya sendiri bersama Miranda. Hingga hal itu membuat Miranda mulai curiga. Dan benar saja, tak ada pesta yang tak berakhir. Suatu ketika saat Irawan mendatangiku, diam-diam Miranda mengikutinya. Sesaat kemudian, sewaktu kami sedang memadu kasih di dalam kamar, tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu:Aku terkejut dan seketika bangun dari tempat tidur. Saat pintu terbuka, betapa terperangahnya diriku.


Sosok Miranda berdiri tegak tepat di depan pintu.
Aku tak bisa berucap sepatah katapun karena tidak mungkin aku bisa mengelak lagi. Tububku masih telanjang bulat, hanya bertutupkan handuk saja saat membukakan pintu. Sementara lrawan yang masih tergeletak lemas di atas ranjang, hanya ditutupi sedikit kain selimut yang masih acak-acakan. Tubuh hangatku yang masih bercampur peluh irawan seketika menjadi beku, dingin membatu.
“Oh, nupanya itu yang selama ini kau lakukan! Pantas kamu menghilang setelah kubantu dari segala penderitaan dan kesengsanaan yang menimpa kehidupanmu.


 Kini kau justru mengkhianatiku dengan begitu menyakitkan. Kau benar-benar biadab! Menyesal dulu aku menolongmu dari kemiskinan! Dan yang lebih kusesali, mengapa aku bisa berteman dengan wanita sepertimu, yang tega menghancurkan keluarga dan kebahagiaanku, sahabatmu sendiri! Kau kejam! Brengsek! Rupanya dulu aku telah menolong wanita jalang seperti dirimu!”
Berjuta cacian terlontar tepat dimukaku, bersamaan dengan mendaratnya tamparan tangan waita yang telah lama aku kenal.

Ya, Miranda merupakan teman sekolahku. Setelah puas mencaci-makiku dan meludahi mukaku, Miranda pergi. Aku menyadari, betapa perih dan hancur hatinya saat itu. Sementara Irawan tidak bisa berbuat banyak saking terkejut. Mungkin dalam hatinya sama sepertiku, tinggal menunggu nasib, apa yang akan dilakukan selanjutnya.

Dengan kejadian itu, aku kembali mendatangi Eyang Asnawi untuk meminta solusi. Semua peristiwa sore itu aku ceritakan kepadanya tanpa ada yang terlewatkan.
“Begitulah kejadiannya, Eyang Sekarang aku harus bagaimana? Aku tidak ingin kehilangan sosok Irawan, tapi tak ingin pula dihina dengan berbagai cacian oleh wanita

“Tidak ada jalan lain, Wuri. Semua sudah terlanjur. Menurutku mending nyemplung sekalian,” tuturnya.
Aku mengernyitkan kening karena tidak mengerti dengan perkataan Eyang Asnawi.
“Maksud eyang?”
Lalu orang tua itu menggeser duduknya mendekatiku untuk membisikkan sesuatu.
Aku mengerutkan dahi, cukup kaget dengan ucapannya.
“Apa harus dengan jalan itu eyang? Apakah tak ada cara lain?”

Cerita Mistis Misteri Kisah Nyata Karma Dosa Menyantet Orang Lain


Sambil menghembuskan asap rokoknya dia menggeleng. Sejenak aku terdiam, lalu dengan tak disadari kepalaku mengangguk pelan, seolah mengartikan setuju. “Kalau begitu, tunggulah kabar dariku beberapa hari ke depan. Jika terjadi sesuatu dengan wanita itu, kau jangan kaget.”
Aku kembali mengangguk. lalu mohon diri untuk pulang.

Satu minggu berlalu, Irawanpun tak menampakkan dirinya dihadapanku. Selang tiga hari kemudian, tiba-tiba dia menelponku dengan nada yang panik, bahkan sesekali diselingi suara isakan.

“Wuri, Miranda.. Miranda dar semalam memuntahkan gumpalan darah hitam tenusmenerus. Aku belum sempat membawanya ke dokter, tapi dia keburu tiada. Miranda meninggal! Kau cepatlah kemari!” ucap Irawan dengan histeris.

Aku melongo. Mungkinkah semua atas ulah orang tua itu, seperti  yang dibisikkannya beberapa waktu lalu? Seribu dugaan dan sejuta bayangan menghinggapi pikiranku. Tapi dengan cepat aku meluncur ke rumah mantan majikan yang sekaligus temanku itu, untuk penghormatan terakhir. Dia juga orang yang pernah aku sayangi sebagai sahabat, tapi juga aku benci atas nasibnya yang lebih beruntung mendapatkan Irawan.

Maafkan aku teman, aku telah tega menghancurkan hidupmu, seperti perkataanmu waktu itu. Tetapi aku juga tak mau kehilangan segalanya, desahku dalam hati di depan jasad yang membujur kaku. Seberapapun teganya aku, diriku hanyalah wanita yang memiliki kodrat dan naluri lemah.


 Aku tetap meneteskan airmata di atas pusara yang ditutupi taburan bunga beraneka warna. Aku tak kuat untuk mengenang kebaikannya, saat keluargaku tertimpa musibah banjir hingga merenggut semua harta serta masa depan keluargku, terutama adik-adikku. Dan kini sosok Miranda telah berkalang tanah, layu terbujur dibawah pohon kamboja.
Tepat satu minggu kematiannya saat aku hendak beranjak tidur, sosok itu hadir dengan tubuh lebam dan membiru. Mukanya yang pucat dengan bola mata bulat hitam menatap tajam kearahku.

“Kau harus mempertanggung-jawabkan semuanya, Wuri! Aku adalah korbanmu atas persekutuanmu dengan dukun ilmu hitam itu. Aku tidak rela! Aku akan terus mengusik kehidupanmu, seperti halnya kau merusak keluarga dan kebahagiaanku!” ancam Miranda.

Sejak itu sosok Miranda terus menerorku. Semakin hari  kemunculannya semakin mengerikan. Wajahnya bertambah rusak, bahkan baunyapun semakin rnenyengat. Dengan kejadian ini, lrawan tak kuat hatinya, hingga akhirnya dia stres. Bahkan bisa dibilang dia mengalami gangguan kejiwaan. Dengan berbagai  upaya serta sisa harta yang dimiliki, keluarganya membawanya ke rumah sakit jiwa.

Rasanya hatiku semakin remuk.Mungkin jika kupikir semuanya, dirikupun tak ubahnya seperti lrawan. Apa lagi menghadapi teror dari arwah Miranda yang terus menerus, terutama saat malam Jumat dan Selasa Kliwon. Sosok itu selalu datang dengan wujud menyeramkan, lalu memanggil-manggil namaku.Tak hanya itu, akhir-akhir ini dia mulai berani mengaca-kacak rumah serta perabotanku. Tak jarang suara gaduh serta jeritannya yang melengking seolah memecahkan telingaku..

Aku tak kuat dengan keadaan ini. Akhirnya kembali aku menemui Eyang Asnawi untuk meminta bantuan agar mengusir arwah penasaran Miranda, setidaknya memberi bekal pegangan agar tidak diganggunya lagi.Tetapi saat aku ke rumahnya yang cukup terpecil, ternyata laki-laki tua itu telah meninggal dunia dua minggu yang lalu. Menurut anak bungsunya, kematiannya itu tak wajar. Dia mati mendadak dengan luka cekikan di leher.

“Lukanya seperti habis diterkam binatang buas. Lehernya sobek dengan lidah menjulur serta mata melotot. Padahal belum pernah terdengar ada binatang buas yang memasuki desa ini,” tutur dia.

Aku tergopoh dan langsung pulang. sepanjang perjalanan pikiranku semakin tak karuan. Tak ada dugaan lain kecuali karena arwah Miranda penyebabnya. Kini tinggal aku menyelamatkan diri. Namun kemana aku harus berlindung? Aku telah berusaha dengan berpindah-pindah tempat tinggal untuk menjáuhkan jangkauan sosok arwah tersebut, tapi nyatanya dia tetap saja bisa menemuiku.

Bahkan berbagai paranormal telah kudatangi untuk kumintai bantuan agar terlepas dan teror arwah penasaran temanku itu, namun hasilnya tetap saja nihil. Bisnis hancur dan harta bendaku ludes tanpa tersisa sama sekali, hanya untuk berpindah-pindah tempat tinggal dan mencari orang pintar agar bisa terlepas dari beban yang menakutkan ini. Aku mulai putus asa. Mungkin jika tak ada yang menolong, akan mengalami nasib serupa dengan Irawan.

Akhir kata, mudah-mudahan peristiwa ini hanya menimpa pada diriku saja, dan tak pernah ada yang mengikuti apa yang aku lakukan terhadap seseorang yang dengan ikhlas telah menolongnya. Mungkin benar,’ inilab yang disebut air susu dibalas air tuba. Perbuatan baik Miranda aku balas dengan kejahatan, hanya karena keserakahan dan nafsu belaka. Penyesalan tinggalah penyesalan, dan kini aku harus memetik hasilnya.
itulah Cerita mistis kisah misteri nyata karma dosa akibat menyantet dan mengambil suami orang
advertisement
Loading...