Cerita Misteri Manusia Harimau asli nyata 7 keturunan

ads

Cerita Mistis Misteri Kisah Nyata Siluman Harimau pemberi keturunan terkuak 

Manusia harimau benarkah ada? banyak yang bertanya-tanya setelah sering menonton manusia harimau MNCTV.Saya jadi berpikir manusia harimau apakah ada di dunia ini?sebelumnya saya telah menulis artikel tentang ritual mendapatkan ilmu manusia atau siluman harimau baca disini.

     

Entah siluman harimau putih atau siluman harimau hitam  atau manusia harimau cindaku yang seolah memberikan restu kepada Edi. Lelaki yang sudah sepuluh tahun menikah dengan si kembang desa, Jamilah, tetapi belum juga dikaruniai keturunan itu. Entah siapa yang salah, yang pasti, walau telah berobat pada empat orang dokter, bahkan pada puluhan “orang pintar”, namun hasilnya tetap saja nihil.

Ketika frustasi mulai merayapi hatinya, di salah satu Café, Edi berternu dengan seseorang yang mengaku dapat memberikan jalan agar apa yang selama ini diinginkan dapat terkabul dalam waktu dekat.
“Kang, sebulan setelah saya kesana, istri Iangsung mengandung,” demikian kilah lelaki yang mengaku bernama Narto itu.
“Benarkan?” Potong Edi penasaran.
Narto pun Iangsung menceritakan pengalamannya. Edi hanya mengangguk dan sesekali menggaruk-garuk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal itu. Tak larna kemudian, kembali terdengar suara Narto;
“Bagaimana Kang?”
“Baik ... saya setuju. Yang perlu, saya dan Jamilah tak lagi jadi pembicaraan orang sekampung,” kata Edi dengan suara mantap.

Kisah nyata mengharukan menginginkan anak lewat pesugihan siluman harimau dimulai


Dan setelah menentukan harinya, kedua orang yang baru saja bertemu itu langsung berpisah dan kembali ke rumah masing-masing. Sepanjang jalan, Edi hanya tersenyum kecil. Wajahnya tampak sumringah. Hatinya selalu berkata; “Semoga, Mbah Jali, sang penunggu beringin tua itu bersedia menolongku.”

Dan benar, pada hari yang telah ditentukan, Edi melihat Narto berdiri di samping mobilnya di pinggir jalan raya itu. Edi langsung menghampiri dan memeluk Narto dengan erat bagai sahabat lama yang beberap tahun tak pernah bertemu.

“Silakan naik, jangan sungkan,” kata Narto sambil membuka pintu mobilnya.
Selama dalam perjalanan, keduanya terilibat dalam pembicaraan yang hangat seputar keluarga masing-masing. Dan pembicaraan itu, Edi menyimpulkan, Narto adaiah salah seorang pengusaha muda yang bergerak di bidang perikanan darat yang tergolong sukses.

Singkat kata, setelah menempuh perjalanan yang melelahkan, keduanya pun sampai di tujuan, sebuah desa kecil yang terletak di salah satu kaki gunung di bagian selatan Jawa Timur. Narto pun mengajak Edi menuju ke satu gubuk terpencil yang terletak di pinggiran desa sekaligus di dekat pemakaman umum.
“Kulanuwun,” ucap Narto.
“Monggo, pinarak,” sahut suara serak dan balik bilik bambu. Dan tak lama kemudian, dan balik bilik kusam itu tampak cahaya lampu minyak yang bergoyang-goyang.
“Narto , kembali terdengar suara serak dan bayangan tubuh seorang tua yang masih tampak sangat sehat.
Narto Iangsung mencium tangan orang tua itu denga penuh hormat. Dan tak lama kemudian, terdengar katanya; “Mbah Mario... mi Edi”.

Orang tua yang akra disapa Mbah Marto Iangsung mengangsurkan tangan, dan Edi pun menyambut dan mencium tangan itu dengan penuh hormat.
Setelah saling menanyakan kesehatan dan pengalaman di perjalanan, Narto pun mengutarakan maksud kedatangannya. Dengan panjang lebar, Edi pun menceritakan perjalanan hidupnya selama ini Sementara itu, Mbah Marto hanya mendengarkan sambil menghisap rokoknya dalarn-dalam.

“Baik kalau begitu, sekarang istirahat dulu di sini. Besok, beli segala ubo rampenya.
Jangan sampai ada yang ketinggalan,” ujar Mbah Marto cerita dukun sakti sambil menggelar tikar lusuh di Iantai.
Esoknya, ketika mentari sepenggalah, Narto dan Edi sudah di tengah-tengah kerumunan manusia yang tengah berbelanja di pasar tradisional yang tergolong besar di desa itu
.
Dan setelah merasa cukup, keduanya Iangsung bergegas menuju gubuk Mbah Mario. Mbah Mario dengan sigap mempensiapkan segala sesuatunya. Beberapa jam kemudian, tampak senyum menguar dan mulut Mbah Mario. “Nanti, menjelang maghrib, semua ini kita bawa ke bawah pohon beringin di tengah pemakaman itu”, ujarnya dingin.
“Narto ... jangan lupa, beritahu Edi tata cara mandi keramas,” imbuhnya.
“Baik Mbah,” sahut Nario.

Edi hanya menatap keduanya dengan pandangan penuh peluh. Jujur, selama ini, ia belum pernah melakukan hal-hal yang semalam dikatakan oleh Mbah Mario. Hatinya gembira bercampur kecut. Betapa tidak, gembira karena ingn mendapatkan keturunan, dan kecut karena harus duduksendirian di bawah beringin tua yang tumbuh di tengah makam.

Malam itu, bertepatan dengan purnama penuh dan hari yang dipandang keramat, Jumat Kliwon, tampak tiga tubuh manusia yang berjalan dengan hati-hati di antara nisan yang berserak. Cahaya purnama seolah menerangi langkah ketiganya... dan beberapa waktu kemudian, setelah menata ubo rampe yang kebanyakan berupa gecok bakal (daging mentah yang diberi bumbu tertentu-Jw), kembang tiga macam, sirih iengkap, kelapa hijau dan banyak lagi yang lainnya, tampak Mbah Marto membakar sabut kelapa yang sebelumnya telah disirami minyak tanah.

Setelah menjadi bara, tangannya langsung mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya dan menaburkannya di bara itu. Tak lama kemudian, tercium bau wangi bercampur sangit memenuhi udara sekitar. Lantunan kidung yang tak pernah diketahui artinya oleh Narto dan Edi langsung meluncur dan mulut Mbah Marto.

Mendadak, rembulan pun tertutup dengan awan hitam nan pekat. Seiring dengan itu, suasana yang semula tenang tiba-tiba berubah. Suara-suara aneh mulai terengar, di sana-sini, tampak berkelebat makhluk-makhluk yang sukar untuk diketahui dengan pasti wujud aslinya. Mbah Marto langsung berdiri dan menggamit bahu Narto untuk mengajaknya pergi. Kini, tinggai Edi seorang diri....
‘Jaga pikiranmu. Pusatkan hati dan minta Mbah Jali untuk segera datang,” demikian pesannya sambil berjalan menjauh.

Edi hanya mengangguk. Tapi apa daya, keinginannya untuk mendapatkan anak agaknya telah berhasil menyingkirkan segala ketakutannya. Kini, dengan ditemani cahaya lampu minyak yang terbuat dan botol kecil bersumbu, Edi hanya duduk dan membaca mantra pendek yang diajarkan oleh Narto tanpa henti. Berbagai godaan yang menakutkan, mulai dan kemunculan jerangkong, banaspati bahkan misteri penampakan kuntilanak cantik yang menggiurkan, tak berhasil mengganggu konsentrasinya.

Akhirnya, dengan di iringi angin puting beliung, tampak sesosok tubuh tua, bertongkat dan didampingi harimau loreng yang demikian besar mendatangi dan berkata; “Aku sudah mengetahui apa yang menjadi keinginanmu anak muda. Kunyahlah selembar daun sirih itu, kemudian, sapukan pada kemaluanmu.”
“Dan sekarang, kembalilah pulang,” tambah Mbah Jail dengan senyum.

Tak ama kemudian, Edi pun sampai di rumah Mbah Marto. “Yah ... nanti, si jabang bayi merupakan pewaris ke tujuh dari Mbah Jali.” Edi hanya bisa tersenyum dan mencium tangan Mbah Marto dengan takzim.
Edi tiba kembali di rumahnya tepat pukul  09.00JamiIah yang melihat kedatangan suaminya, Iangsung menghambur dan memeluknya dengan manja serta menanyakan oleh-oleh untuknya.

Setelah mengecup kening sang istri, Jamilah yang sudah empat hari ditinggal, langsung bangkit birahinya. Setelah meminta Edi untuk membersihkan tubuhnya, keduanya iangsung berasyik masyuk di pagi nan cerah itu. Sekai ini, Jamilah merasakan ada yang berbeda dengan perlakuan Edi. Edi dirasakan begitu garang, seolah hendak melepaskan rasa rindunya selama empat hari ini sampai tuntas.

Hingga pada suatu hari, sambil berbisik manja, Jamilah menceritakan bahwa dirinya telah beberapa waktu tidak datang bulan.
“Hah ... ayo kita ke dokter,” kata Edi dengan penuh semangat.
Sambil tersenyum, dokter Santi pun memberikan selamat dan berpesan panjang lebar; “Akhirnya, penantian panjang Bapak dan Ibu membuahkan hasil. Ibu benar-benar positif hamil, tolong jaga kandungannya baik-baik, jaga kesehatan, jangan lupa meminum vitamin dan selalu kontrol pada waktunya.”
Waktu terus berlalu, pada saatnya, kembali bertepatan dengan Jumat Kiiwon, Jamilah pun melahirkan dengan selamat. Edi yang begitu gembira langsung menggendong sang jabang bayi yang diberi nama Norman Jayasasmita itu.

Tak ada yang berbeda dengan yang lain, dalam keseharian, Norman juga bermain-main dengan anak-anak yang sebaya dengannya. Malahan boleh dikata, Norman adalah sosok yang banyak memiliki sahabat. Selain mau berbagi dengan sesama, Ia juga dikenal sebagai anak yang ringan tangan.
Keanehan baru terlihat ketika ia duduk bangku kelas tiga SMR Ketika itu, mereka baru saja kembali dari alun-alun untuk berolahraga. Di tengah perjalanan, ada beberapa pelajar SMK yang menggoda bahkan menarik tangan teman perempuannya. Melihat tu, Norman langsung mendekat dan menegumya; “Bang ... jangan begitu dong.”

“Mau apa lu?” Kata yang ditegur sambil memukul kepala Norman.

Norman berkelit. Ia sama sekali tidak membalas, hanya berkelit, berkelit dan terus berkelit. Melihat itu, ketiga pelajar SMK yang semula menonton menjadi marah. Tanpa dikomando, mereka langsung mengeroyok Norman. Ketika salah seorang dari mereka mencabut clurit, tiba-tiba, dari mulut Norman terdengar gerengan. . .dan kelima jari tangannya pun menekuk membentuk cakar.

Cerita mistis misteri kisah nyata Manusia berubah menjadi harimau

Seiring dengan suara; “Grhhh , yang keluar dari mulut Norman, tubuhnya pun Iangsung menerjang keempat orang yang ada di depannya. Tangannya bergerak kian kemari bak seekor harimau sedang berkelahi. . .dan benar, baju keempat anak itu langsung terkoyak. Bahkan, tubuh mereka pun mulai terasa perih karena tergores oleh kuku Norman.

Karena yakin tak mungkin bisa mengalahkan Norman, akhirnya, keempat anak itupun melanikan diri dengan wajah penuh ketakutan....
Dan sejak itu, Norman pun menjadi sosok  yang paling disegani di sekolah maupun tempat ia tinggal. Beruntung, sanjungan dan pujian tak membuat Norman besan kepala, ia bahkan semakin pendiam. Boleh dikata, waktunya selalu dihabiskan untuk belajar bersama-sama dengan para sahabatnya. Hasilnya pun berbuah, semua berhasil lulus dalam ujian dengan nilai yang tinggi....

Waktu terus berlalu. Akhirnya, setelah lepas kuliah, Norman pun mewarisi usaha ayahnya. Di tangan Norman, perusahaan hasil bumi yang semula kecil kini berkembang dengan pesat. Edi dan Jamilah merasa bersyukur, karena, walau anak semata wayang, tetapi, Norman bukanlah sosok yang manja.
Peristiwa yang mengerikan pun kembali terjadi. Ketika keluarga ini tengah menghabiskan waktu Iiburannya di pedesaan, sambil mengawasi panen yang sedang berjalan, malamnya, rumah itu didatangi sekitar tujuh orang perampok . Ada yang membawa senjata tajam, ada juga yang membawa senjata api.

Setelah berhasil melumpuhkan penjaga malam, ketujuhnya Iangsung masuk ke kamar tidur. Dalam waktu singkat, Edi dan Jamilah yang sudah berumur itu berhasil mereka dilumpuhkan. Ketika mereka tengah asyik mengumpulkan berbagai jenis logam mulia yang dikenakan Jamilah dan uang di lemari pakaian, tiba-tiba, terdengan gerengan yang memekakkan telinga disertai melesatnya sesosok tubuh sembari mengayunkan tangan kesana kemari.

“Ah... aduh... ampun...,” hanya itu yang terdengar. Tak lama kemudian, tampak dua perampok yang sedang menjaga Jamilah dan Edi terpental dengan wajah dipenuhi luka yang menganga. Sementara, karena tak menyangka mendapatkan serangan, ketiga perampok yang sedang membongkar lemari sesaat terdiam. Salah satu yang tersadar lebih cepat Iangsung mencabut pistol dan mengarahkannya ke Norman.
Tetapi apa yang tarjadi? Yang terdengan hanyalah suana “klik” beberapa kali, tetapi, tak ada sebutir peluru pun yang muntah dari moncong pistol itu. Norman pun kembali beraksi, dalam satu kali gerakan, tubuhnya kembali melenting dan tangannya mengibas ke kanan dan ke kiri. Kembali terdengan suara mengaduh yang tak tertahankan.

Ketujuh perampok itu langsung saja melarikan diri. Sekaii ini, Norman yang marah karena melihat kedua orangtuanya yang ketakutan, langsung mengejar mereka. Lompatannya benar-benar mengagumkan, mirip seekor harimau jantan yang sedang mengejar mangsanya di hutan. Yang berlari paling depan berhasil disergapnya ... dengan gerengan yang menakutkan, tangan Norman kembali bergerak menyilang. Lolongan kesakitan pun terdengar.
itulah kisah misteri seorang anak yang lahir memiliki darah titisan harimau
Baca juga kisah nyata misteri mendapatkan ilmu manusia harimau



Sang perampok mati dengan tubuh yang mengenaskan. Penuh dengan cabikan....
Paginya, semua penduduk kampung hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil berkata; “Ah .. ternyata masih ada harimau di kampung kita.”
Mendengar itu, dengan hati-hati, Edi pun menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada Jamilah. Jamilah hanya tertunduk, sebab ia tak merasa, selama ini, anak yang dikandungnya adalah salah satu pewaris ilmu harimau.manusia harimau atau siluman harimau.Mungkin inilah manusia harimau new generation

advertisement
Loading...